Halaman

Kamis, 27 Desember 2007

MENDIDIK ANAK MELAKUKAN PEKERJAAN DI RUMAH

Seakan sudah menjadi trend di masyarakat kita untuk mempekerjakan pembantu rumah tangga di setiap rumah keluarga yang “merasa” cukup berada. Mereka tidak mendidik anak-anak mereka untuk bisa mandiri memenuhi kebutuhan sendiri seperti merapikan kamar, mencuci piring setelah makan, menyapu lantai, dsb.

Bahkan ada yang menganggap itu adalah “gengsi” tersendiri. Semakin “kaya” seseorang semakin banyak pembantu yang bekeja pada mereka. Dan, anak-anak mereka semakin “bodoh”. He he he jangan tersinggung dong! Maksudnya makin bergantung. Buktinya, saat lebaran, pembantu mudik dan keluarga itu harus cari pembantu pengganti harian yang mahal. Ada yang sampai “ngungsi” ke rumah keluarga atau bahkan.... ke hotel!

“Waaah, repot dong Bu, nggak ada yang bisa bantu Mamanya.”
“Waduh, pasti rame ya tiap hari “smack down”, orang 3 laki-laki semua. Apa Ibu nggak kewalahan kalau mereka berantem?”
“Bu, pembantu itu Cuma 250-300 ribu perak ini, masa sih nggak mampu?”
“Ssssttttttttttt Bu Dewi itu pelit ya, bayar pembantu aja nggak mau. Padahal kan dia kaya. Ke luar negeri aja bisa, haji bisa, umrah sekeluarga, masa bayar pembantu aja?”

Yaaah, begitulah. Mulai dari yang bertanya langsung sampai yang “ngrasani”, saya dengar kata-kata negatif tentang saya dan keluarga saya. Nggak papa! Mereka berhak memberi penilaian sesuai sudut pandang mereka.

Saya semakin tahu kalau saya memang berbeda. Anak laki-laki bersaudara tidak harus berantem apalagi pukul-pukulan, smack down, atau apalah namanya. Laki-laki atau perempuan tidak tergantung pada suka berantem atau tidak! Anak laki-laki tidak berarti tidak bisa membantu mamanya di rumah. Perempuan, juga harus bisa membela dirinya jika ada yang mengganggu. Dan, pembantu di rumah bukanlah suatu keharusan jika semua anggota keluarga melakukan sendiri keperluannya. That’s simple.

Saat saya tidak ada pembantu, saya melakukan semua pekerjaan rumah tangga dengan bernyanyi, kadang malah sedikit menari atau akrobatik ringan. Pokoknya semenarik mungkin. Kalau bisa lebih menarik dari iklan TV. Ha ha ha . Anak-anak pasti akan senang melihat saya dan “pengen” melakukan apa yang saya kerjakan (memang itu tujuan saya). Ya, saya ingin anak-anak membantu saya tanpa saya suruh.

“Maa, boleh ikutan ngepel nggak? Maa, aku aja yang nyapu ya? Maa aku aja yang cuci piring ya? Maa aku aja yang njemur baju ya? Masak yuk Ma, seperti kemaren!”

Permohonan penuh rayuan itu yang biasanya saya dengar dari jagoan-jagoan cilik saya. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya ajari mereka caranya, dan kamipun “rock ‘n roll” bersama. Ya, kami bekerja sambil bernyanyi, berjoget, bercanda, wah......pokoknya “heeeboh”. Gagang sapu, tongkat pel, bisa berubah jadi mike. Kain pel bisa berubah jadi papan seluncur. Sabun cuci pun menjadi gelembung-gelembung indah di udara.

Sampai-sampai Rafi yang saat itu masih umur 2 tahunpun ikut basah kuyup karena ngepel sambil bergulingan karena lantai licin. Yang penting saya mengawasi agar tidak bahaya. Dan sesudahnya kami bersihkan diri, minum susu hangat, makan, istirahat. Ya, mereka bertiga "tewas" dalam mimpi indah mereka. Senyum manis di bibir mereka karena "merasa sudah berharga" membantu mamanya. Itu sangat penting!

Hasilnya? Saat mereka masih kecil, memang tambah “hancur” alias berantakan. Tapi, ne pa de problema. Setelah mereka tidur, saya membersihkan lagi "hasil karya" mereka.
Bukan masalah bagi saya harus mengulang lagi nantinya dan pasti lebih capek. Ya, karena tujuan saya mendidik mereka sudah tercapai. Karena prinsip saya, merapikan “berantakan” rumah itu jauh lebih mudah dibanding jika saya harus merapikan “berantakan”nya attitude mereka setelah mereka lebih besar apalagi setelah dewasa. Membersihkan lantai yang kotor karena ulah mereka lebih mudah dibanding "membersihkan" kelakuan mereka yang salah arah, karena saya tidak mau repot saat mereka kecil.


Sekarang, tidak ada pembantu bukanlah masalah besar bagi kami. Kami “bekerja sama” sebagai tim dalam menyelesaikan semuanya. Saat hari raya Qurban pun kami bakar sate bersama di halaman. Mulai dari potong-potong daging, buat bumbu, dll sampai makan kami lakukan bersama. Dan, nggak berat lho!

“Waah, Maa, satenya mak nyus, empuk dan jauuh lebih enak dibanding tadi di sekolah. Kita bisa buka warung sate nih!” Begitu komentar buah hati saya menikmati sate buatan kami.

Tapi tetep saja kadang mereka males lho. Namanya juga anak-anak!! Jadi harus dimotivasi lagi semangatnya dengan cara yang “indah”. Itulah perlunya kreativitas, kecerdasan, kepandaian, dari seorang ibu. Nggak cukup pendidikan S3 kan untuk menjadi IBU?!!

Tidak ada komentar: