Halaman

Sabtu, 29 Desember 2007

BERPENDAPAT.........LAGI!

Saat anak-anak mulai besar saya merasa tidak masalah jika saya menimba ilmu formal lagi. Ya....kan jadi ibu mesti pinter. Memang “belajar” itu dari buaian hingga liang lahat tidak pernah boleh putus. Belajar dari sekitar, pengalaman, buku, short course, kehidupan, dan formal. Nah, yang terakhir ini perlu dana yang lumayan besar dan waktu.

Dengan waktu kuliah hanya hari Sabtu Minggu, saya merasa tidak terlalu banyak mengambil waktu berharga saya dengan anak-anak. Lagipula, anak-anak bisa ikut mengantar saya kadang-kadang bersama papanya.

Waduh, ternyata teman saya anak-anak yang baru lulus dari universtias tersebut (ternama) dengan IP yang menurut saya spektakuler! Agak ngeper juga saya sebenarnya. Tapi karena saya kuliah memang untuk belajar, bukan mencari gelar seperti biasanya orang, ya fine fine aja.

Lho..........lho.............lho.............kok ternyata mereka nggak sehebat IP nya ya? Wa.......lhadalah, mereka malah pada marah sama saya karena menurut mereka, kehadiran saya membuat standart nilai (letter A, B, C) menjadi tinggi. Ya, karena nilai absolut (angka) saya 90 an, maka nilai saya menjadi A, nah..........nilai mereka menjadi turun grade! Jadi IP hebat mereka bukan karena nilai tinggi tetapi karena semua jelek, ya yang tertinggi jadi A. salah saya atau salah siapa ya??

Eit, tapi saya mau cerita tentang “berpendapat” ya? Sorry melantur!

Dalam perkuliahan, saya sering bertanya (namanya juga belajar, banyak yang nggak tahu!), dan “berpendapat”.

“Anda memakai referensi buku apa, pendapat siapa, untuk dasar menyampaikan pendapat ini? Setahu saya, belum pernah ada pendapat seperti itu.”
“Memang belum pernah ada karena ini pendapat saya, Bu.”
“Anda boleh membuat statement dan pendapat anda akan diakui jika anda sudah menyelesaikan S3 anda. Sekarang, jika anda mengemukakan pendapat haruslah mereferen ke pendapat orang lain yang memang sudah diakui pendapatnya. Atau buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit yang cukup bisa diandalkan.”

Walah-walah...........saya sampai bengong! Enakan juga di rumah saya, biar anak saya masih kecil, kalau pendapatnya benar ya diakui. Eeee ibu dosen saya ini kok lain ya. Padahal kalau sama dosen yang dijuluki “killer” oleh teman-teman saya, pendapat saya cukup dihargai jika memang bagus. Malah kalau dia tidak setuju, saya masih bisa mempertahankan pendapat saya dan “berdebat” dengannya.

Ternyata “materialsme” dalam dunia akademis juga ada ya. Gelar akademis yang dimiliki seseorang menentukan apakah pendapat dihargai atau tidak. Jadi, penilaian bukan pada apa yang disampaikan tetapi pada siapa yang menyampaikan.

Ealaahh lha kata pepatah (maaf agak jorok) “Emas tetaplah emas meski keluar dari pantat ayam” itu artinya apa ya?

Tidak ada komentar: