Halaman

Kamis, 02 Oktober 2008

SAVE THE NEXT GENERATION PART # 1

Hm...... menjelang liburan Hari Raya, kami sekeluarga nonton TV. Acaranya sih, favoritku; "Termehek mehek". Ha ha ha.....dulunya aku pikir ini acara pasti jelek banget, remaja banget, cinta monyet banget, pokoke aku males banget nonton. Eee..... setelah sekali "terjebak" nonton ni acara........waaa......ketagihan. Bang Helmi Yahya kali ya penggagasnya? He he he.......kakak kelasku di STAN ini memang kreatif. Ternyata acara ini bagus, menyelesaikan kesulitan orang yang mungkin nyaris desperate. Nggak ngerti mau minta tolong ke mana.

Hari Sabtu kemarin, 27 September 2008, tentang orangtua yang mencari anak perempuannya yang masih umur 6 tahun. Anak itu hilang 4 bulan lalu saat di stasiun kehausan, dan ditinggal sebentar atau gimana aku nggak gitu nyimak (maklum nontonnya sambil sambil). Pokoke dia sudah menghilang aja. Ditanya sana sini, dicari sana sini, sampai 4 bulan orangtuanya nggak bisa ketemu. Berbagai penjuru kota sudah ditelusuri, nggak ketemu juga.

Hhhhhhh......nggak kebayang sedihnya, galaunya, takutnya, khawatirnya, dan menyesalnya telah lalai sehingga buah hati tercinta hilang dari pelukan. Aku sampai berlinang airmata nggak kuasa membayangkan kesedihannya.

Setelah tim "Termehek mehek" bekerja keras, ternyata anak itu diculik seseorang yang dipanggil "Si Bos", dan dijadikan pengamen di kereta api jabodetabek. Jahat sekali ya orang itu. Akhirnya anak itu bisa diselamatkan dari sebuah rumah besar berpagar dan dijaga orang dewasa. Weleh....weleh...... anak-anak kecil dipekerjakan oleh mereka untuk "minta-minta" dan menghidupi mereka. Yah......anak-anak itu dieksploitasi oleh orang dewasa. Dan kita, dieksploitasi perasaan kita agar memberi mereka saat mereka "bekerja" untuk Penjahat tadi.

Masya Allah....... kejamnya!

Dan.......kita juga ikut kejam jika memberi mereka uang saat mereka "beraksi" meminta uang kita di lampu merah, kereta api, bus, atau di manapun juga. Kenapa? Karena kita ikut "menumbuh suburkan" eksploitasi ini, yang menyebabkan Penjahat macam mereka makin merasa untung dan makin "giat" mencari korban korban lain. Mereka akan makin giat menculik, merenggut anak dari kenyamanan, dari kemapanan masa depan, daritempat terlindung, ke "hutan belantara" kehidupan kasar, jahat, malas, kejam.

"Tapi kan kita nggak boleh suudzon. Siapa tahu mereka bener-bener anak jalanan, miskin, perlu makan."

He he he.....bener Bu, Pak, maybe! Itulah perlunya turun tangan pemerintah, pemda, untuk menertibkan mereka. Tibum harus selalu rajin melakukan razia dan mengidentifikasi mereka. Hanya orangtuanya dengan bukti sah yang boleh mengambil mereka dari tangan pemerintah. Ya, fakir miskin dan anak telantar merupakan tanggungjawab negara. Kita harus dukung diberlakukannya larangan memberi sedekah di jalanan, bukan lewat lembaga.

"Lha tapi lembaganya belum tentu amanah."

He he he........leres sanget Bu, Pak, memang itu juga masalah. Kalau kita berdebat teurs, maka ini akan menjadi lingkaran setan. Tidak ada ujung pangkalnmya.

Yang jelas, kalau kita tidak memberi sedekah secara "liar", tetapi kita salurkan melalui lembaga resmi, ini tidak akan menumbuh suburkan yang namanya "EKSPLOITASI" anak-anak, merenggut masa depan mereka, merusak perasaan mereka, mengintimidasi mereka, mempekerjakan mereka dengan paksa.

Jika peminta-minta tidak mendapat hasil, maka sektor ini tidak akan menjadi "bisnis" yang menggiurkan. So, anak-anak anda tidak akan "terancam" oleh pelaku bisnis macam ini. Lalu, apakah anak kita lantas jadi "aman"? Ya belum tentu! Tapi setidaknya telah hilang satu ancaman; diculik untuk dipekerjakan menjadi peminta-minta dengan berkedok ngamen atau pekerjaan lain.

So, dengan tidak memberi peminta-minta di jalanan, kita telah ikut serta menyelamatkan generasi penerus dari eksploitasi orang yang tidak bertanggungjawab.

Please, save the next generation.................

Tidak ada komentar: