Halaman

Sabtu, 11 Oktober 2008

TEGURAN ADALAH SAYANG

Hmm.....aku barusan "ditegur" Allah melalui seorang sahabat. Sahabat yang baik tentu akan menegur dengan maksud memberi masukan agar aku menjadi lebih baik. Teguran, berarti dia sayang dan care sama aku. Cieee.......GR nya.........Ehem...... bukan gitu, maksudnya ya sayang sebagai sesama manusia, sebagai sahabat, sebagai sesama mahkluk Allah yang selalu salah dan khilaf.

Walaaah.....ditegur apa sih, sampai sebegitunya??? He he he..... sejak kecil aku memang sangat PD (semoga bukan narcist atau sombong). Entah kenapa, justru karena sangat PD itulah, aku survive, aku kuat, aku bisa melakukan yang mungkin jarang dilakukan anak kecil. Kalau aku pikirnya sekarang, memang sepertinya aku dulu tuh sombong! Padahal, suer......aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya PD, memotivasi diri, dan ingin memaksimalkan potensi diri. Ya, aku merasa bisa, kenapa tidak boleh diolah dan dimanfaatkan untuk kebaikan diriku?

Dan....karena PD ku itu, berbagai prestasi aku raih dengan gemilang. Akademik, waah......itu sih sudah pasti. Bukan cuma juara umum sekolah lho, tapi sampai ke tingkat provinsi. Cerdas cermat, pelajar teladan, bintang perpustakaan, he he he banyak ya? Bahkan hampir segala macam kompetisi juga aku ikuti. Mulai dari baca puisi, pidato, deklamasi, nyanyi, nari, bintang perpustakaan, dan ..... nulis! Biasanya sih, aku "langganan" menang. Sampai pernah saat lomba hampir dimulai dan ada seorang juri yang melihatku ada sebagai peserta berkomentar; "Wah....kalau Dewi ikut ya muridku mana mungkin bisa menang?" He he he....bener lho! Dan aku bukan mau nyombong. Ternyata.........aku memang menang! Bapak sih doain aku, bukan doain muridnya sendiri.......... terjadi deh.

Kemudian setelah dewasa, aku merasa kalau apa yang selama ini aku lakukan adalah kesombongan, jelek, nggak baik, pokoke negatif. Ini gara-gara aku belajar mengenai kerendahhatian, lha temen terdekatku tuh......rendah hatiiii banget. Malah kalau menurutku sih nyaris ...... minder wader! So, aku menahan diri agar lebih calm, santun, andap asor, rendah hati, pokoke "membumi". Emangnya kemarin-kemarin terbang?? Xi.....xi.....xi.... serba salah ya?

Namun.......apa yang terjadi? Aku merasa "gagal", aku seperti orang yang tidak punya pegangan, aku merasa tidak bahagia. Ya, aku merasa bukan diriku. "Aku bukan diriku...." Hicks....hicks.... hicks...... kayak lagu aja ya? Di samping itu, aku "merasa" orang-orang semena-mena terhadap aku. Aku sudah melakukan banyak hal, mengorbankan banyak harta, bahkan korban perasaan. Ternyata susah jadi orang rendah hati! Aku merasa "diinjak-injak" oleh orang yang seharusnya berterima kasih kepadaku. E....e....e.... nggak boleh gitu, Dew! Terima kasih hanya untuk Allah. (Ehem....kalau lagi sadar sih gitu, lagi tobat kali ya.)

Oleh karena itu, kemudian aku memutuskan......deee......kok kayak hakim aja pakai memutuskan segala. Ya, aku memutuskan untuk tetap "menjadi diriku" tanpa mengesampingkan "rendah hati". He he he....pokoke belajar lebih bijak. Lha ngapain aku melakukan sesuatu yang tidak membahagiakanku kan?!

Ternyata....e......ternyata...... mungkin aku dilihat orang lain masih terlalu PD, sombong, atau.... selalu mendongak kalau berjalan? Waduuuh.....ntar kesandung ya? Padahal, setulus hati, aku nggak bermaksud begitu. Aku melakukan semuanya biasa saja, tidak ada maksud untuk merendahkan orang lain. Aku hanya berpamrih pada Sang Maha Kaya. Aku hanya menyadari terbatasnya waktuku, aku hanya "buru-buru" takut nggak keburu, aku hanya manusia yang sadar mempunyai banyak keterbatasan, kekurangan, terlalu sedikit pengetahuan, sehingga ingin sekali melaksanakan pengetahuan yang memang hanya "seiprit" itu tadi. Aku juga pengen jadi anak baik, berbakti, untuk orangtua yang sudah "pulang" tanpa sempat menerima baktiku. Nyesel banget, hicks.....hicks.....hicks..... (nangis sesenggukan sampai dunia berguncang hebat).

Memang Dewi itu hanya manusia biasa. Banyak kekurangan dan kelemahan. Masih harus banyak belajar. Banyak kurang hati-hati. Banyak kurang merendahkan hati. Banyak omong. Banyak...... alesan pembenaran!! Ha ha ha...........

But........ dengan segala kerendahan hati, aku mohon maaf jika terlihat sombong, besar kepala, terlalu "mendongak", terlalu PD yang menyebabkan terlihat "narcist". Padahal.....sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu.

Thank you sahabat semua, yang telah "membesarkan" aku. Tapi badanku kok nggak besar-besar ya.........."imut" terus. Tapi justru aku bersyukur...... hemat kain, hemat biaya karena selalu membeli ukuran teenagers.......murahan bo!! Apalagi kalau sedang di negara lain yang nilai kusnya mahal banget! Baju n sepatu anak lebih murah.

Hua.....ha.......ha.........peace ah!!!

Tidak ada komentar: