Halaman

Senin, 13 Oktober 2008

Bagaimana Mengarahkan Anak Menjadi Kreatif & Inovatif?

Berbagai bukti menunjukkan bahwa semua bayi manusia yang lahir itu adalah makhluk kreatif dan inovatif. Dalam enam tahun pertama, semua bayi bisa meniru bahasa apapun yang dipakai orangtuanya. Bukankah itu kreativitas dan inovasi yang luar biasa dahsyatnya?

Tapi seiring dengan pola asuh yang diterimanya dari orang dewasa (orangtua, keluarga, sekolah, dan lain-lain), kreativitas dan inovasi itu ada yang semakin membaik dan ada yang sebaliknya. Umumnya, kreativitas dan inovasi bayi mulai menurun.

Praktek pemupusan yang paling umum adalah melalui ucapan. Ucapan itu kemudian dipedomani oleh si anak. Bisa kita hitung sendiri berapa perbandingan antara kata ”jangan” yang kita ucapkan dengan kata ”silahkan”? Umumnya yang paling sering kita ucapkan adalah kata ”jangan” dan berbagai ungkapan lain yang mengarah pada pembatasan. Inilah yang disebut dengan mental block atau self-limiting belief. Anak-anak berusaha membatasi dirinya karena batasan yang kita ciptakan di alam mentalnya.

“Lho, apa tidak boleh kita membatasi anak? Bukankah itu untuk kebaikannya? Tentu bukan seperti itu pengertiannya. Kalau merujuk pada model pola asuh yang sudah kita bahas di sini, yang perlu kita jauhi adalah perlakuan yang ekstrim, terlalu membiarkan dan terlalu mengawasi.

Terlalu membiarkan akan membuat anak-anak akan sulit membedakan mana yang benar, baik, dan bermanfaat, sembrono, menggampangkan sesuatu yang tidak gampang. Tetapi, terlalu membatasi juga bisa membuat mereka punya potensi ”minder”, merasa atau berkesimpulan bahwa di dunia ini lebih banyak batasannya ketimbang peluangnya. Mereka terbatasi oleh mentalnya sendiri

Memang, dalam prakteknya pasti tidak ada orangtua yang memiliki posa asuh sempurna untuk anak-anaknya. Kesempurnaan dalam parenting itu hanya akan terwujud dengan cara disempurnakan, selalu dan setiap saat, apabila: a) terbuka terhadap masukan baru, b) menambah ilmu, dan c) mau memperbaiki apa yang salah atau kurang (learning).

Perbaikan seperti apa yang penting untuk dilakukan? Jika kita melihat anak-anak kita turun daya kreativitas dan inovasinya setelah menginjak usia ke yang lebih tinggi, nasehat para pakar psikologi (Human Development: 1989) di bawah ini barangkali pas untuk kita jalankan:

Menghormati hak anak untuk menginisiatifkan cara belajar yang pas untuk dirinya. Sebelum kita mengatakan ”jangan”, katakan ”silahkan” dulu, baru kemudian kita kasih pengarahan.

Menghormati hak anak untuk ingin tahu dan mengalami. Sejauh tidak membahayakan, terkadang kita perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengalami (experiencing).

Menghormati hak anak untuk menolak / menerima berbagai masukan setelah mempertimbangkannya. Terkadang kita harus siap dengan pilihan anak. Sejauh pilihan itu sudah kita jelaskan, dan dia memilih apa yang bukan kita pilih, saatnya kita menghormati pilihannya.

Mendorong anak untuk lebih merasa tertantang dalam menghadapi masalah. Yang paling berharga dari proses ini bukan hasilnya, melainkan prosesnya itu. Jika si anak ternyata berhasil menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan caranya sendiri, itu telah menyumbangkan konsep-diri positif yang luar biasa.

Memberikan kesempatan untuk berkreasi. Ini bisa dilakukan juga dengan cara memberikan rangangan, motivasi, atau kesempatan.

Lima hal di atas pasti mudah untuk diketahui tetapi belum pasti mudah untuk dijalankan. Kenapa? Kebanyakan kita lebih memilih jurus yang langsung instan, tidak perlu berpikir sulit, dan efeknya langsung nyata. Jurus itu adalah: jangan (melarang) atau (membiarkan). Semoga bermanfaat.

Sumber: Sahabat Nestle

Tidak ada komentar: