Halaman

Rabu, 18 Februari 2009

JIKA AKU MENJADI....................

Acara TV ini merupakan salah satu favoritku. Meskipun........... selaluuuu saja menguras emosi dan airmataku. Yaaah.........secara, aku memang gembeng, gampang nangis kalau melihat atau membaca dan mendengar cerita yang sedih-sedih.

Tapi jangan salah ya, bukannya aku seneng melihat kesedihan orang lain lho, aku suka melihat tayangan ini.

Ya, acara ini membuatku kembali mensyukuri keadaanku, anugerah Allah bagiku, seberat apapun jalan hidup yang aku lalui. Memang.......... seberat apapun hidupku, rasanya nggak ada apa-apanya dibanding beratnya kehidupan mereka. Tapiiii.......... jangan-jangan rasa syukurnya selama ini besaran mereka ya daripada aku. Maluuuu.......... deh sama Allah!

Berbagai kisah hidup terpapar di acara itu. Semuanya memprihatinkan secara ekonomi. Ya iyalah......... kan memang yang dipilih yang seperti itu. Malunya (harusnya semua yang nonton malu), kalau ada yang meskipun hidup sangat berat secara ekonomi, mereka nggak minta-minta, tetep ceria, bersyukur, dan selaluuuu berusaha sekuat tenaga menghidupi keluarganya.

Sudah begitu, tetep aja hidupnya memprihatinkan. Ada yang makan cuma sekali sehari, makan hanya dengan lauk garam atau cabai, bahkan ada yang makan kulit singkong setelah singkongnya dibuat gorengan untuk dijual. Ya, mereka menyajikan kulit singkong sebagai camilan buat anak-anaknya.

Hebatnya........... mereka tetap semangat!!

Impian sederhana mereka seringkali membuatku nggak kuat menahan airmataku jatuh. Ada yang mimpi bisa punya gerobak sayur, warung kecil di rumah, atau hal sederhana lain yang hanya bisa mereka impikan.

Tapiii............. sayangnya, di saat keadaan susah seperti itu banyak diantara mereka yang:
1. Tidak mengikut sertakan anaknya membantu, meski anak sudah cukup besar. Padahal, mestinya anak dididik sejak dini. Apalagi kondisi keluarga susah, ya mesti dibuat mengerti dan aware. Paling tidak mereka rapiin n bersihin rumah, masak, dll kan bisa. Wong berlianku aja bisa kok!
2. Bapaknya tuh "nglepus" merokoknya nggak ada putusnya. Lha........... daripada buat merokok kan bisa buat makan to Pak!
3. Mbok ya memanfaatkan segala yang ada untuk survive dan menambah gizi keluarga. Misal menanam sayuran, bumbu, dll. Nggak ada tanah ya di kaleng bekas. Ngirit dan sehat kan?!!

So, pendidikan masyarakat tuh masih sangat diperlukan ya. Masyarakat mesti cerdas, bijak, mensiasati keadaan mereka.

Tapiii................ tetep aja aku mesti banyak bersyukur dengan keadaanku ini.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ngomong2 tentang masa sulit seperti ini dan masalah pendidikan, kita harus segera menyiapkan rencana pembiayaan pendidikan.

Ini sangay penting. Karena selepas dari masa sulit ini, biaya pendidikan akan meledak.

Silahkan klik di http://pru-syariah.com/index.php?option=com_pendidikan&Itemid=28 untuk memulai langkah pertama memulai perencanaan biaya pendidikan.