Halaman

Selasa, 15 September 2009

ANAK NGGAK KUAT PUASA ??

Puasa Ramadhan sudah menjadi salah satu arena pembelajaran, pembentukan akhlak, pendidikan jasmani rohani bagi berlian-berlianku. Sejak masih sangat kecil, dini sekali mereka sudah berlatih berpuasa. Betul. Mereka sudah mulai belajar berpuasa sejak usia 2-3 tahun. He he he.......

Jangan pada marah gitu deh. Emang sih kalau belum tahu bagaimana berlianku belajar berpuasa pasti pada menuduhku kejam dan keras terhadap anak. Makanya, baca sampai selesai ya.

Seperti sekarang ini, Princessku yang belum genap berusia 3 tahun sudah berpuasa. Nggak percaya? Tanya saja sendiri kepada yang bersangkutan, pasti dia jawab jika dia berpuasa. Serius! Ha ha ha............. dia berpuasa "ala berlianku. Princess berpuasa, tidak makan dan minum di luar rumah. Nah, kalau dia ingin makan atau minum ya masuk rumah terlebih dahulu. Mengapa aku didik begitu? Ya ada banyak alasannya;
  • Membiasakan kepada mereka untuk berpuasa, menahan diri, tidak makan dan minum di tempat yang biasanya boleh.
  • Mendidik agar mereka menghormati orang lain (terutama anak kecil) yang berpuasa atau sedang belajar berpuasa dengan tidak makan dan minum di tempat umum.
  • Memberikan rasa bangga, percaya diri, bahwa mereka pun berpuasa seperti orang dewasa. Hehehe........... anak kecil seringkali merasa hebat jika sudah dianggap besar, bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa atau yang lebih besar (tua) dari mereka.
  • Menanamkan rasa syukur, empati, rasa tepa slira, disiplin, jujur, dll
Setelah mereka berusia 4 tahun, maka berpuasanya meningkat menjadi menahan makan dan minum sejak sahur (ini sih sebangunnya dia, bisa jam 6, 7, atau saat sahur beneran) sampai jam 10 pagi. Lalu berbuka lagi jam 12 siang atau setelah dzuhur, dilanjut saat ashar minum susu dan makan kue (milk break lah hahaha..........) dan.............. selanjutnya ikut jam buka puasa beneran, ikut sibuk, ribut, dan menunggu-nunggu seolah dia memang berpuasa seharian. Bahkan lebih heboh dibanding yang berpuasa beneran sejak subuh hingga magrib.

"Buuuka puasaaaa................ buka puasa..........................." begitu nyanyian merdunya menjelang buka puasa.

Seiring bertambahnya usia, sesuai kemampuan mereka, acara berbuka di tengah2 berangsur menjauh menjadi jam 11, 16, magrib. Lalu setengah hari, dan akhirnya mereka berpuasa beneran sehari penuh sejak kelas 1-2 SD. Tanpa paksaan, tanpa ancaman, tetapi diiringi kebanggaan karena mereka merasa sudah hebat, bisa berpuasa sehari penuh.

Hehehe.............. tapi jangan dikira lancar2 aja lho. Pastinya ada saat2 mereka nggak kuat menahan godaan, terutama jam 12-14 di saat kehausan terasa sangat bahkan melihat air kolan pun mereka sudah tergoda. Hahaha..................... Beberapa orang sih menyarankan agar aku memberitahukan ke anak-anakku, seandainya nggak kuat dan ingin minum diam-diam harus minum air masak. Jangan air mentah. Lha............ aku mana mau begitu? Aku sih bilang ke anak-anakku seandainya nggak kuat ya bilang saja ke aku, jangan minum diam-diam yang artinya berbohong. Aku sih mendingan mereka nggak puasa tetapi jujur daripada sepertinya puasa padahal berbohong. Karena yang penting bagiku bukan berpuasa di depanku, akan tetapi kejujuran mereka sangatlah penting bagiku, jauh lebih penting dibanding status berpuasa.

Naaah........... yang akan aku ceritain ini bagaimana caranya eh........... caraku jika mereka mengeluh nggak kuat puasa pada saat mereka sedang di tengah waktu berpuasa. Hmm............ barusan 2 haru yang lalu terjadi sih, karena aku ketiduran, semua alarm tidak bekerja sebagaimana mestinya karena habis baterai dan aku lupa charge, dikombinasikan dengan kecapekanku yang rupanya sudah dalam ambang batas serta ngantuuuk banget alias sama sekali tidak mendengar suara-suara dari masjid yang biasanya membuatku terganggu saking kencangnya. Hhhhhh................. bangun saat terdengar adzan subuh! Duuuh............... gimana nih anak-anak nggak ada yang makan sahur. Si kecil yang baru 10 tahun bagaimana??

"Cintaa.............. Mama minta maaf ya kesiangan, bangunnya sudah subuh. Jadi nggak pada sahur deh. Aduuuh.................. maaf ya." Demikian pintaku.
"Mamaa............... it's ok. I have a lot of eat last night, it's enough for me. Don't be sorry. I know you were tired and sleepy." Lhaa??? Kok malah berlian ganteng terkecilku bilang begitu?? Subhanallah.............. aku sedikit lega dan tidak terlalu merasa bersalah.

Tapii...................... siang hari sesudah dzuhur..........

"Maa............aku hauuus banget. Boleh setengah haru nggak hari ini? Kan nggak sahur."

Weleeeh.........weleeh.................... kok lagu lama saat mereka masih kecil kembali bergema? He he he............ yo wis, Mama juga melancarkan jurus masa kecil kalian ya.

"Boleh, tapi.............. bagaimana kalau nanti dua jam lagi?"
"Hhhhh................... aku tahu deh, kalau dua jam lagi pasti aku nggak mau buka lagi. Waktu dulu kan gitu?"

Hehehe............... dia sudah tahu trik ku untuk menyiasati keluhannya. Tapi toh dia tetep nurut menunggu dua jam lagi untuk berbuka.

Dua jam kemudian......................

"Mas Rafi jadi buka nggak?"
"Ya pastinya nggaklah Ma, sayang lagi. Sekarang sudah jam tiga sore, bentar lagi juga sudah magrib. Masa puasaku selama itu mau aku batalin? Nggak usyah la yao!"

Tuh kaan.............. masih mujarab kok. Meski sekarang lebih mudah karena dia sudah lebih besar dan sudah tahu cara menghitung untung ruginya batalin puasa. Kalau dulu saat masih kecil, aku harus mengajak berhitung dulu untung ruginya jika membatalkan puasa sebelum waktunya. Kan memang nafsu untuk membatalkan puasa itu biasanya memang cuma sesaat datangnya. Setelah waktunya terlewat, maka puasa tidak lagi masalah. Niat menuntaskan kembali kuat.

So, berhasil..........berhasil.................. horeee!! Hahaha.................. kayak Dora the eksplorer tontonan Princessku ya! Selamat berpuasa berlian indahku. Semoga Allah selalu mencintai dan melindungimu. Amin.

Jumat, 11 September 2009

ZAKAT

Beberapa kawan, relasi, saudara, menanyakan tentang zakat. Lha.......... aku bukan ahli ilmu agama. Paling-paling aku ngerti dikit n diikuti logika berpikir aja. Tapi mereka bilang tanya ke aku justru karena mereka nggak puas dengan penjelasan para ahli agama (walaaah........... jangan gitu donk, nggak enak nih jadinya), juga pelaksanaannya.

"Saya kok kurang sreg dengan pemanfaatan zakat saya. Di masjid dekat rumah, di ustadz, bahkan di lembaga besar yang sudah punya nama. Gimana ya Bu, kalau hati nurani nggak sreg kata Ibu dulu berarti ada yang salah?"

Waduuuuh............ aku jadi bingung deh, kok ujung-ujungnya mengutip statementku yang sebenarnya aku gunakan untukku sendiri???? Bukan buat publik itu, lha aku bukan Superman........ eh salah, aku bukan seorang ahli yang statementnya pantas dipakai oleh publik sebagai rujukan.

Ya sudah, karena mereka bertanya dan mau menerima syaratku bahwa ini hanyalah pendapatku sebagai seorang Dewi, yang bukan siapa-siapa, ya aku jelasin aja. Secara garis besar aku jelasin, eee............. lha kok yang masih mahasiswa malah nyatat dan memintaku pelan penjelasannya! Kata mereka, "Hebaaat Bu, logis sekali dan orisinil pendapatnya." Weee............ jangan dipakai di kampus lho ya, nanti aku repot kalau harus berhadapan dengan para profesor itu. Bukan apa-apa sih, kasihan kan kalau sampai profesornya kalah argue sama aku. Hahaha.......... jangan diambil hati ya, itu cuma numpang narcist aja kok. Pas serieuse. Hehehe....

Menurutku sih, kalau zakat fitrah, sedekah, infaq, dll HARUS diberikan kepada mustahiq dan digunakan untuk konsumtif. Yah.......... silahkan saja dibagi-bagi, dihabiskan, ngak ada masalah. Karena zakat fitrah memang untuk konsumtif, untuk merayakan lebaran, jangan sampai ada yang kekurangan kebutuhan pokoknya saat lebaran. Makanan layak, pakaian pantas, yah.......... jangan ada yang sekedar untuk makan saja tidak ada. Kayaknya sampai di sini sih hampir tidak ada bedanya dengan pendapat semua orang ya, makanya mereka kelihatan bosan dan nggak minat. Mungkin mereka nyesel sudah nanya ke aku. Kirain pendapatnya spektakuler!! Hehehe.............

Nah, kalau zakat maal aku punya pendapat berbeda. Dan begitu aku menjelaskan, semua tekun menyimak, manggut-manggut (entah karena mengerti, setuju, atau ngantuk karena sedang puasa), dan para mahasiswa mulai mengeluarkan jurus-jurus mencatatnya. Nggethu! Wuih......... aku makin bersemangat menjelaskan dan agak sok dosen gitu.

Menurutku, zakat maal bukan untuk konsumtif. So, bukan untuk dibagi-bagikan sampai habis kepada semua yang dianggap mustahiq, dan setiap tahun selalu habis selalu dibagikan kepada semuanya, bahkan setiap tahun bukannya berkurang penerimanya malahan orang yang sudah menerima tahun sebelumnya pun masih selalu datang untuk menangguk "jatah" ditambah penerima baru. Sedih banget kalau aku melihat fenomena ini.

Padahal, semestinya zakat maal bermanfaat untuk menyelamatkan ekonomi umat, bahkan untuk mengembangkannya. So, zakat maal harusnya bersifat produktif, sama sekali bukan konsumtif, dan tujuannya untuk memberdayakan umat secara ekonomi. Dan zakat maal ini bisa mengentaskan ekonomi masyarakat (umat) terutama lingkungan di sekitar para muzaki sendiri. Dan lingkungan ini bisa secara geografis atau komunitas tertentu. Pengelolanya pun seharusnya memahami masalah ekonomi, keuangan, dan karakter umatnya.

Misalnya, zakat maal yang dikelola oleh masjid suatu kalangan perumahan. Maka sudah seharusnya bisa bermanfaat untuk umat di sekitar sana terlebih dahulu. Dan pemanfaatannya juga sesuai kadar "urgent" nya, yang tentu saja ini unik untuk masing-masing kalangan. Misalnya jika yang sedang urgent di sana adalah masalah pengangguran, maka zakat maal bisa digunakan untuk menanggulangi pengangguran. Bisa untuk "pinjaman" modal usaha disertai pendampingan dan bimbingan, bisa untuk membuka usaha yang menyerap para penganggur di sekitarnya, atau untuk mendidik mereka agar lebih berdaya, cukup keahlian dan ilmu sehingga memungkinkan bagi mereka untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang cukup. Nah, orang yang tahun ini menjadi mustahiq, yang menerima zakat maal, maka diharapkan tahun depan tidak lagi menjadi mustahiq namun sudah menjadi muzaki. Hei........ bukankan dengan begini setiap tahun akan menelorkan muzaki baru? Sehingga bukan mustahil setelah masyarakat tersebut sejahtera secara ekonomi, maka zakat maal mereka bisa dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan di wilayah lain terdekatnya. Demikian seterusnya.

Idealnya memang demikian, dikelola oleh masjid setempat dengan profesional. Dan pengelolanya (amil) mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup untuk menanganinya, serta mereka mendapat renumerasi yang cukup pula. Bukan gratis, bukan hanya ucapan terima kasih, karena ini pekerjaan yang membutuhkan keseriusan, keahlian, dan dedikasi yang tinggi. Profesional, bahasa kerennya. Namun, oleh karena seringkali yang mengurus masjid hanya sampingan, atau jika dia full di masjid hanya karena dia tidak mempunyai pekerjaan lain, maka penanganan zakat yang seperti ini tentu saja aulit terwujud.

Jika zakat maal dibentuk dan dikelola oleh suatu komunitas tertentu, misalnya sebuah keluarga besar. Mereka mengumpulkan zakat maal mereka secara kontinyu, diurus oleh profesional yang mengerti masalah keuangan, ekonomi, dan amanah tentu saja, lalu memanfaatkannya untuk anggota keluarga besar tersebut yang membutuhkan (bukan konsumtif). Sama persis caranya dengan jika diurusi masjid, sampai seluruh anggota keluarga besar tersebut terentaskan dari kemiskinan, yang mustahiq sudah menjadi muzaki, maka kemudian pemanfaatan zakatnya bisa meluas ke sekitarnya.

Hhhhhhhh................... rasanya jika ini diterapkan, multiplier efffectnya akan sangat besar. Tidak akan terlalu lama membuat umat Islam sejahtera. Karena fungsi zakat sebagai penopang ekonomi umat benar-benar terwujud, zakat akan mendidik umatnya untuk semakin berdaya secara ekonomi, umat penerima zakat akan mempunyai kebanggaan, harga diri, karena mereka bukan peminta-minta yang tiap tahun datang menadahkan tangan, dan bukan hanya menjadi ajang pembagian "jatah" tahunan yang habis tak berbekas karena digunakan untuk konsumsi belaka.

Dan juga bukan zakat dipull di lembaga yang terlalu jauh dari masyarakat muzaki, kemudian pemanfaatannya pun tidak langsung mengena bagi masyarakat sekitar muzaki. Misalnya aku (dulu sering sih) berikan, amanahkan zakat maalku ke **** sebuah lembaga pengelola zakat. Trus zakat itu digunakan untk mengentaskan kemiskinan di Papua atau manalah yang aku sendiri nggak kenal. Nggak papa sih, tapi akan aneh kalau sebenarnya di sekitarku sendiri , komunitasku sendiri, temanku, saudaraku sendiri, butuh penanganan masalah ekonomi umat. Iya to? Bener to? Manteb to? He he he...........

Terlalu serius?? Kok sudah mulai ada yang tidur? Hehehe............ rupanya dia sejak sahur belum tidur, biarin aja deh. Semoga mimpinya tentang zakat, dan saat bangun dia sudah bisa menerapkan zakat yang benar. Eee................ yang mahasiswa minta ijin memakai catatannya jika suatu saat dia butuhkan. Hallaah.............. asal jangan aku disuruh berdebat dengan profesornya aja deh. He he he................... kalah status! Maksudnya siapa nih yang kalah???

Peace ah! Selamat berpuasa, selamat berzakat, tapi please............... jangan terus aku yang disuruh menangani zakat kalian ya. Kecuali kalian ikut membentuk, merekrut, mendidik, mengawasi, dan mensupervisi para pengelolanya.

Luv u full.......................

Rabu, 09 September 2009

CHAIN

Dari seorang teman;

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson ."

Wah, sebenarn ya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu.. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun ju mlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya."

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan .

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya.. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.

Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan ke lahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!"

Kamis, 03 September 2009

PENGEMIS & RASULULLAH

Kisah teladan:

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,
Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang
menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak
bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan
membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan
itu kepadanya.

Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu?

Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si
pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku,
tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,
setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya,
orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....


Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Pengiiiin punya pribadi seperti itu..............amiiin................

Selasa, 18 Agustus 2009

Nangis

Nangis adalah nama tengahku. Ha ha ha................ kayak di film2 barat ya? Tapi aku memang gampang nangis. Mungkin aku punya stock airmata yang cukup banyak ya. He he he............ matur nuwun, Gusti.

Entahlah kenapa aku gampang nangis, airmataku mudah tumpah, hatiku gampang tersentuh, bahkan oleh hal-hal yang bagi kebanyakan orang tidak mungkin membuat mereka sampai meneteskan airmata seperti pada diriku.

Film yang mengharukan, kisah yang menyedihkan, bahkan film kartun tentang anak lebah yang selalu mencari mamanya namun nggak pernah bisa ketemu saja, mampu menguras airmataku. Melihat anak kecil yang diperlakukan kurang baik oleh orang dewasa yang seharusnya bertanggungjawab, juga bisa membuatku nangis. Termasuk anak yang mendapat perlakuan permissivism, apa-apa boleh, nggak pernah dilarang, yang sebenarnya perlakuan ini sangat membahayakan perkembangan mental dan spiritual anak-anak tersebut. Ini jauh lebih jahat dibanding didikan keras.

Malahan, menyaksikan anak-anak SMA atau SMP yang mengendarai motor ugal-ugalan di jalan raya juga membuat hatiku teriris. Aku sedih karena bisa jadi mereka tidak mendapat arahan dan bimbingan serta contoh dari orangtuanya serta orang dewasa di sekelilingnya yang seharusnya memberi contoh yang baik. Kasihan sekali mereka menjadi seperti itu. Aku tidak pernah marah terhadap anak-anak yang ugal-ugalan di jalan, aku justru prihatin. Aku marah kepada orang-orang dewasa yang menyebabkan mereka seperti itu. Orangtua, bahkan guru, seringkali tidak memberi contoh dan teladan yang pantas untuk ditiru. Mereka hanya menyuruh anak-anak begini dan begitu, tanpa memberikan keteladanan.

Entah sudah menjadi apa jaman ini. Materialistis merajalela. Anak-anak terabaikan. Gelimang materi sudah menyingkirkan kepedulian orang dewasa terhadap nasib anak-anak. Seolah mengguyur mereka dengan berbagai fasilitas, mainan mahal, sekolah mahal, dan berbagai les bergengsi, namun hanya dalam pengasuhan pembantu, baby sitter, dan sopir sudah lebih dari cukup. Seolah anaknya tidak punya hati. Mereka sudah membuat hati anak-anaknya mengeras dan menghitam, seperti hati mereka sendiri, hati orangtuanya.

Orangtua, baik itu ayah maupun ibunya hanya cukup memberikan "sisa" tenaga, pikiran, hati, dan waktunya buat mereka. Semuanya habis untuk b e k e r j a, yang katanya sih buat anak-anak juga. Tapi............ entahlah! Apakah anak-anak memerlukan karir, uang berlebih, mobil berganti-ganti, atau orangtua yang sibuk bersosialisasi sana sini dengan teman2 kerjanya? Atau............. anak-anak lebih membutuhkan kehadiran, sentuhan, dan cinta tulus orangtuanya dengan materi secukupnya?

Belum lagi, orangtuanya juga sering lebih "sibuk" menyantuni anak yatim, kaum dhu'afa, bahkan mengulurkan tangan mereka untuk menyentuh dan mengelus kepala para yatim. Padahal anak-anak mereka tak tersentuh tangan orangtuanya sendiri, tangan mereka.

Kembali aku menangis jika mengingat anak-anak yang kesepian dalam kemewahan. Semoga mereka tidak tumbuh liar, "kelihatan" baik2 saja, hebat, namun hatinya kosong. Semoga mereka tidak menjadi "the lost generation".

Sedih sekali, aku hanya bisa menangis untuk mereka. Setidaknya aku tidak turut serta mempunyai andil dalam menjerumuskan mereka, merusak hati, pikiran, jiwa, dan mental mereka. Aku menangis kepada Allah, agar mereka masih bisa terselamatkan. Kembali ke fitrah mereka, tujuan penciptaan mereka, beribadah kepadaNya, menjadi khalifah Allah di bumi ini.

Sabtu, 15 Agustus 2009

PRESENT

He he he........... aku sering mendengar atau membaca peryantaan orang tentang hal ini, setahuku sih juga ada di film Kungfu Panda. Tapii............ aslinya dari mana, I don't know babar blassss!

Katanya sih yesterday itu history nggak mungkin kita bisa balik lagi ke sana, tomorrow itu mistery gak pernah sampai kita ke tomorrow, dan today itu anugerah yang datang kepada kita, selalu datang setiap hari, harus disyukuri, makanya disebut PRESENT, hadiah. Penuh kejutan.

Hmm..................... ok juga sih.
Dan sebenarnya aku pernah nulis, posting, di blog ini tentang hal yang mirip filosophinya dengan pernyataan tadi. Judulnya; "Waktu Itu Seperti Uang Kaget". Pernah baca belum? Kalau belum, cari deh!

Tapi emang bener banget, hari ini adalah GIFT, hadiah, anugerah, kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya, gratuit! Atau, kita akan menyesalinya jika kita justru merusak kesempatan itu karena tidak akan pernah lagi bisa terulang. Hari yang akan datang dan kita nikmati nantinya selain hari ini tentunya mempunyai nilai yang berbeda dan seharusnya memberi kesempatan yang berbeda pula.

Kita selalu suka dengan hadiah. Menunggu-nunggu kejutan apa yang akan diterima. Berharap mendapatkan seperti yang diinginkan. Hadiah indah sesuai harapan.

Tapi apa lacur.................. kadang hadiah tidak sesuai keinginan dan harapan. Dan ini sangat mengejutkan, mengecewakan, terkadang membuat kita berburuk sangka dan menyalahkan pemberi hadiah. Seperti juga hari ini, present, yang selalu datang dengan kejutan. Kadang manis, indah, menyenangkan. Namun tidak jarang mengecewakan, menyedihkan, berat.

Kalau sudah gitu.............. rasa dan sikap syukur sering ilang, lenyap, menguap. Seolah hanya kejutan yang sesuai harapanlah yang pantas disyukuri. Padahal............. sesuatu yang tidak sesuai harapan bisa jadi sesuatu yang justru kita butuhkan. Sesuatu yang indah. Sesuatu yang memperkaya diri kita. Sesuatu yang mematangkan jiwa kita. Sesuatu yang mengembalikan arah langkah kita. Sesuatu yang menyadarkan kita. Untuk kembali ke tujuan awal penciptaan kita. Beribadah kepadaNya.

Heiii.................... berarti, hari ini HARUS selalu kita syukuri. Dengan mengupayakan semuanya dengan segala kemampuan terbaik kita. Karena hanya hari ini kesempatan yang kita punya. Besok....................... tidak akan pernah datang. Tomorrow never come.

Selasa, 11 Agustus 2009

MENGAPA BEGINI MENGAPA BEGITU

Princessku saat ini, seperti juga mas-masnya dulu sewaktu masih kecil ungil n imut (padahal sih badan mereka gak ada yang imut meski lahirnya imut), setiap saat selalu bertanya "Ma, apa ini?" "Ma, apa itu?" Meski juga kadang disertai dengan "Mengapa sih?" "Ada apa sih?" atau pertanyaan-pertanyaan merdu lainnya.

Kritis? Hmm.............. iya sih, tapi sebenarnya wajarlah dia belum tahu dan ingin tahu. Tapi........... nggak jarang juga ngeselin. Bayangin aja kalau kita lagi sibuk atau asyik melakukan sesuatu, apalagi penting (atau sok dipenting2in) lalu mereka dengan seenaknya bertanya atau berpendapat dan HARUS dijawab saat itu juga, sesuai keinginan mereka, sampai mereka puas! Gggggrrrrhhhh..........

Ya sudah, sebelum menjawabnya, aku akan ciuuuum mereka sepuas hatiku hingga terkadang mereka akan marah dan protes berat. Yah.............. pertanyaan belum dijawab kok pipi sudah diserbuuuu????!!!!

Itu karena aku mamanya. Lalu.............. bagaimana jika sehari-hari anak-anak kritis ini bersama orang lain? Pembantu, baby sitter, apa mereka sesabar dan setelaten mamanya ya? Belum lagi apakah mereka sepinter mamanya? Pengetahuannya seluas mamanya? He he he.................. just curious!

Setelah mereka besar, remaja, lain lagi pertanyaan dan kritisnya mereka.

Malam itu, aku harus menjemput berlianku dari tempat belajar bahasanya. Motornya sedang rusak, tidak bisa dipakai, pulangnya cukup larut sehingga membuat papa n mamanya agak khawatir jika dia harus naik angkot berganti sekian kali. Maklum, jika malam kendaraan umum tidak selalu sesuai trayeknya. Mereka sering langsung pulang.

Dalam perjalanan dia bercerita banyak tentang apa saja yang bisa dia curhatkan ke mama papanya. Termasuk tentang semua hal yang dia lihat sehari-hari, di manapun, sekolah, jalan, lingkungan. Orang-orang, pekerja, anak-anak, dll. Pertanyaan-pertanyaan dia bukan lagi seperti saat masil mungil dulu. "Mengapa mereka begitu Ma?" "Kok tega ya Ma?" "Seharusnya dibeginikan ya Ma?" "Dia hebat ya Ma!" Waaah.............. jahat banget sih." "Coba begini, pasti kan negara ini bisa maju dan makmur ya Ma?" dll...........dll............... Clessss............ adem rasanya mendengar berlian remajaku mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.

Hm................... inilah salah satu kesempatanku melakukan intervensi ke dalam pemikirannya. Mencari kesempatan dalam kesempitan nggak sih? Ha ha ha................... nggak papalah, kan tujuan dan caranya baik, klop deh.

Lalu akupun mulai memasukkan nilai-nilai yang ingin aku tanamkan padanya. Dan dia menjadi semakin mengerti mengapa mamanya melakukan ini itu, dan mengapa mamanya "berbeda". Dan tentu saja dia bangga terhadap mamanya meskipun mamanya berbeda, karena dia semakin memahami tujuan, niat, bahkan kerelaan mamanya melakukan semuanya meskipun banyak mendapat cercaan dan cibiran. He he he................ yang mencibir tuh nggak tahu, belum mengerti mana yang sebenarnya jauuuh lebih penting dan berharga. Mama sih berharap suatu saat mereka mengerti, sehingga mama tidak berjuang sendiri. Mereka ikut berjuang sehingga beban yang berat terasa ringan karena dipikul bersama.

Dan heii.................. sesudah pembicaraan dengan topik serius yang dia sampaikan malam itu, dia menjadi semakin bertanggungjawab, mengerti, nurut, namun semakin kritis, namun juga sering semakin ngeselin, dan yang membanggakanku dia semakin kelihatan fokus dalam menjalani hidup ini dan semoga misiku menjadikannya berlian indah yang menyinari bangsa ini, menjadi generasi penerus bangsa ini yang amanah, membuat terwujudnya tujuan penciptaan manusia............................ beribadah kepadaNya!

Kamis, 30 Juli 2009

PUISI UNTUK ANAKKU

Nak, kamu pasti tahu handphone, jika beli yang baru pasti ada manualnya
Kamu juga tahu saat ibu beli kulkas, ada manualnya
Televisi yang kita punya, juga ada manualnya
Radio, AC, rice cooker, blender, semua ada manualnya
Heiii............ komputer pun juga ada manualnya
Ibu pikir, tidak ada barang yang dibuat tanpa disertai manualnya

Tapi Nak,
Apakah kita menggunakan manualnya untuk mengoperasikan barang-barang tadi?
Apakah kita mengikuti petunjuk di dalam manual itu untuk merawat barangnya?
Apakah kita mempelajari, memahami, dan memaknainya dengan benar?

Atau..............
Kita hanya membuka dan membaca manualnya saat bermasalah?
Bahkan, saat itu pun kita tidak menggunakan manualnya?
Dan memilih membawanya ke tukang reparasi?
Terkadang malah langsung membuangnya dan membeli barang yang baru
Karena manualnya sudah kita buang bersama kardusnya
Sebagai barang bekas
Tanpa pernah membuka dan membacanya

Anakku,
Tahukah kau, jika kita pun diciptakanNya berikut manual?
Dan............ kita seringkali lupa
Kita tidak membaca, apalagi menggunakannya untuk merawat diri kita
Untuk mengoperasikan diri kita
Masihkah kita baca dan gunakan saat kita bermasalah?
Atau....................
Manual kita pun sudah dibuang?
Sudah tidak pernah lagi dibaca, apalagi dipahami dan diamalkan
Bahkan tidak pula digunakan sebagai pemecah masalah, pengobat duka dan lara
Hhhhh..................

Anakku,
Engkau anak yang cerdas
Engkau anak yang pintar
Engkau anak yang hebat
Maka anakku, gunakanlah manualmu dengan benar
Jangan hanya dibawa-bawa, dibaca, atau dihafal
Pahamilah maknanya, pesannya, petunjuknya............. dengan benar

Anakku, dengan manualmu itu
Engkau akan selamat
Dunia akhirat

Tapi anakku, ingat pesanku
Jangan hanya kau ambil sepenggal-sepenggal sesuai keperluanmu
Jangan seenakmu menafsirkan agar seperti nafsumu
Jangan pula sekali-kali menganggap orang lain belum sehebat dirimu
Apalagi menghakimi bahwa iman mereka belum sekuat imanmu
Hanya karena mereka tidak setuju denganmu

Anakku, selalulah kau berpegang erat dengan manualmu
Manualmu itu adalah..................... Al Qur'an

Jumat, 24 Juli 2009

TERLALU CINTA???

Banyak yang menuduhku terlalu mencintai pacarku, juga berlian-berlianku, anak-anakku. Hmm................ tentu saja mereka salah. Aku memang sangat mencintai mereka semua, yes, I do love them. Tapi, bukan TERLALU. Ya, bien sur, aku juga tahu kalau segala sesuatu yang terlalu itu tidak baik. Weee........... lha kalau cuma itu aja masa aku nggak tahu? Hhhh.............. ngremehin aku banget ya. Kwkwkwk................. aku nggak marah kok, meski komentar itu kebangetan. Hm........ aku selalu mencoba memahami pendapat orang lain.

Trus, kenapa kok aku terlihat sangat mencintai mereka? He he he................ bukan "terlihat", tapi memang aku sangat mencintai mereka, tapi bukan terlalu mencintai mereka. Ha ha ha..................... jangan pada bingung apalagi marah ya dengan penjelasanku ini.

Begini,
Aku sangat mencintai mereka, pacarku n anak-anakku. Mereka semua berlianku. Mereka sangat berharga bagiku. Mengapa? Karena sekarang ini, mereka adalah amanah Allah bagiku. Suamiku, anak-anakku, adalah amanah. Makanya sebisaku akan aku jaga mereka sebagai salah satu bentuk pengabdianku kepada Sang Pemilik, Allah. That's simple. Ya, bagiku adalah suatu kewajiban, keharusan, kebanggaan, sekaligus kehormatan, aku menjaga mereka. Karena menjaga mereka adalah mengemban amanahNya.

Naaaa.................... berarti, aku bukan cemburuan, over protektif, atau istilah lain yang negatif gitu deh!

Ha ha ha................. memang sih tanggapan orang-orang bermacam-macam. Ada yang setuju, mendukung, salut, tapi juga nggak sedikit yang bilang kalau aku "lebay", cemburuan, pengawasan melekat, over protektif, parno, "sakit", dll. Hhhhh.............. biarin aja deh, asal yang berpendapat negatif bukan pacarku atau berlian-berlianku. Ngapain dipikirin? Bikin sebel aja kan?

Lagian, makin orang "nyinyir" biasanya aku malah show up di depannya. Qi qi qi................. biar dia makin khekhi n suebeeellll................. Iiiih, kok aku jahat gitu sih? He he he............... bukan jahat kok. Cuma biar dia sadar dan segera bangun. Ngapain dia ngurusi aku dan keluargaku, kan??? Lha mending juga dia ngurus keluarganya sendiri. Kalau mau niru aku boleh kok! Nggak disuruh bayar royalti.

Ya, sangat mencintai keluarga itu bukan dosa, bukan aib. Memang sih, sekarang ini seringkali aneh! Kalau kita kelihatan sayang, cinta, sama keluarga malah diomongin. Apalagi suami istri. Gandengan tangan aja dirasanin, dibilang lebay. Jemput suami ke kantornya dibilang pengawasan melekat. Lha padahal biasa aja kaleee! Berpahala malahan.

Lha kalau orang masih belum nikah, pacaran malah dianggap mesra, bagus, setia. Padahal itu HARAM!!! Aneh kan!!!! Dasar pendapat setan ya?

Ups!! Sorry! Habisnya, setahuku yang mendukung kemaksiatan itu ya setan. Yang mengecam kebaikan itu ya temennya setan.

He he he................... ngomelnya finish! Mau siap2 kerja dulu ya.......................

Bonne chance!

Selasa, 21 Juli 2009

PESTA PERNIKAHAN

Menghadiri undangan pernikahan, baik itu undangan untukku sendiri (maklum sudah mulai dianggap tuwir), maupun menemani mama ke undangannya. Secara, mama kan kalau nggak ditemenin sendirian. Kasihan lah.

Nah, sehubungan dengan menemani mama inilah yang membuatku tergugah, menyesal, sedih, hhhhh.................. semoga aja keputusanku waktu itu adalah yang terbaik dan ada hikmahnya.

Yah, hampir di setiap undangan, jika menemani Mama, apalagi jika pernikahan anak teman Papa (alm), pasti pesta di gedung mewah atau hotel berbintang. Pestanya pun mewah dengan tamu undangan yang juga mewah. He he he............... istilah apa itu ya, tamu kok mewah? Hi hi hi......... biar seru ah. Maksudku tamunya ya rata-rata VIP di negeri ini, terutama di bidang perbankan. Secara, papa alm adalah seorang petinggi sebuah bank di negara RI tercinta ini.

Pesta yang meriah, mewah, dan tamu-tamu keren inilah yang seringkali membuatku sedikit menyesal. Aku agak menyesal dulu saat menikah nggak mau pesta meriah begitu. Heii............ jangan salah ngerti ya, aku bukannya menyesal karena nggak menikmati pesta meriah di pernikahanku lho (ehem............. sedikit sih). Tapi menyesal karena sangat mungkin aku telah mengecewakan keempat orangtuaku. Lho? Kok empat? Ya iyalah kan orangtuaku dan mertuaku.

Mungkin saja saat menikahkan anak-anaknya adalah saat bahagia dan kebanggaan bagi orangtua. Termasuk kemegahan pesta dan kedatangan tetamu, tentunya punya nilai tersendiri bagi mereka. Bukan sombong mungkin, tetapi pengakuan, eksistensi, dan kehormatan. Yah, aku dulu nggak mikir sampai ke situ. Apalagi saat kami menikah, Papa sedang ada di posisi yang cukup tinggi. Meski Bapak sudah pensiun, tapi beliau juga sangat dihormati dan tentunya sangat berharap bisa menikahkan aku, putri kebanggaannya dengan penuh kebanggaan.

Hhhh.................. bahkan sampai sempat terdengar meski samar-samar, kalau aku sudah hamil sebelum menikah, makanya pestanya sangaaaaaat sederhana. Apalagi untuk ukuran anak pejabat yang cukup tinggi. Waduuuuuh........................ amit-amit deh. Aku?? Hiiiii.................... sorry deh!

Tapiii...................... mereka nggak salah juga ya, bisik-bisik gitu? Hikcs............... makin sedih nih, jadi kebayang sedihnya keempat orangtua kami dulu saat kami maunya menikah sederhana. Padahal, biaya berapapun pasti mereka akan dengan senang hati mengeluarkannya untuk pesta kami.

Bapak, Ibu, Papa, Mama, ampuni kami berdua yang egois ini ya. Do'akan saja hidup kami berkah, sampai nanti di akhirat tetep bisa menjaga keutuhan ikatan yang telah direstui, sehingga menjadi berkah bagi kita semua, penghalang jilatan api neraka, dan mempertemukan keluarga kita dalam kebahagiaan di syurga.

Amiiiiin............................

Selasa, 14 Juli 2009

SSSSSTTTTT................. AKU SELINGKUH????

Qi....qi....qi....................... berdua pacarku, kami suka cekikikan membicarakan masalah ini. Lho? Membicarakan perselingkuhannya sendiri kok malah cekikikan berdua? He he he............... makanya baca dulu sampai habis ya.................................

Seringkali aku atau pacarku merasa bosen dengan keseharian kami. Nakalnya, kebosenan datang saat seharusnya kami menggeluti kewajiban kami masing-masing, pekerjaan kami masing-masing. Hm.......... aku sih nggak terlalu masalah karena aku bekerja bukan kepada orang lain maupun instansi tertentu. Tapi................... pacarku kan masih abdi negara, masih sebagai pegawai, yang pastinya terikat berbagai aturan kantor baik itu pekerjaan maupun waktunya.

Trus???? Kalau bosen gimana donk?????

He he he....................... tentu saja ide nakalkulah yang lebih sering muncul, meski dia juga tidak jarang lebih dulu melontarkan rencananya untuk kami lakukan. Dan........... sering juga idenya jauuuh lebih "nakal" dari ideku. Apakah itu??? Waaah............. sorry, maaf, ini off the record. Tapi, aku suka. Kami suka.

Kami janjian saat lunch time, ishoma, atau apalah istilah lainnya. Aku datang sendiri, dan dia pun datang sendiri dari kantornya untuk kemudian kami bertemu di suatu tempat yang telah kami sepakati bersama. Jangan malahan makan siang di luar sama orang lain kan!

Di mana atau ke manakah itu? Ya tergangtung sih. Kadang kami makan berdua, sekedar jalan-jalan "cuci mata" berdua, atau belanja kebutuhan rumah berdua, atau main boling berdua. Eh............... kalau masih punya berlian ungil yang masih ASI, kami jalannya bertiga sih.

Kadang kami makan berduaan, sambil bercanda. Kaki-kaki kami pun iseng banget ikut bercanda. He he he.............. aku paling suka gangguin kakinya saat duduk berdua.

Jika kami boling beruda, which is aku memang sama sekali nggak jago seperti dia. Bolaku sering banget masuk "got" di pinggir arena. Kalau sudah gitu, aku sebel dan lari ke pelukan atau pangkuannya. He he he............... sengaja sih, biar dipeluk. Sebenarnya aku jago main boling. Ha ha ha................ bohong! Aku beneran nggak bisa. Tapi pacarku itu? TOP BGT deh! Strike sudah menjadi langganannya.

Jalan berdua sambil belanja kebutuhan bulanan, kami bergandengan tangan, bercanda haha hihi, kadang pelukan di tengah keramaian lalu lalang orang yang kami cuekin, atau iseng berdua. Ha ha ha................. kami memang paling seneng bercanda dan cekikikan berdua. Membicarakan atau mengomentari sesuatu yang belum tentu lucu bagi orang lain. Namun bagi kami, dengan keisengan dan kreatifitas kami, maka semuanya menjadi lucu dan "gayeng" untuk dibicarakan.

Dan yang terpenting, itu sangat menghibur kami, mempererat cinta kami, memperindah hidup kami, dan meramaikan kebosenan kami akan keseharian, rutinitas, sehingga menjadi lebih berwarna.

Setelah itu, kami akan kembali ke mobil masing-masing. Ya, meski kadang tidak bisa parkir bersebelahan, kami usahakan parkir di lantai yang sama. Tentu saja dia akan mengantarku ke mobilku terlebih dulu sekaligus memasukkan barang belanjaan kami ke bagasiku karena akulah yang lebih dulu pulang (he he he.............. itulah asyiknya aku bisa memilih untuk pulang dulu atau tidak). Sedang dia harus kembali ke kantor.

Naaah................ sebelum berpisah di tempat parkir itu, kecupan kecil kadang disertai pelukan akan mengiringi perpisahan kami.

"Hati-hati cantik."
"Hati-hati cintaku."
"Love you..............."

Atau kata-kata lain yang biasanya dia bisikkan ke telingaku karena .................. rahasia............... akan membuatku berbunga-bunga dalam perjalanan pulang. Senyum-senyum sendiri saat nyetir seringkali menemaniku di perjalanan pulang.

Heii..................... hal-hal kecil, iseng, namun menyenangkan itu suatu hari menjadi pembicaraan hangat bagi kami berdua. Mengingat:

  1. Kami datang sendiri-sendiri.
  2. Ketemuan di tempat parkir.
  3. Jalan berduaan, mesra, gandengan, kadang pakai rangkulan, cekikikan berdua (aneh ya, kok setelah menikah malahan nggak mesra lagi sih???)..
  4. Berpisah di tempat parkir.
  5. Sebelum berpisah pakai acara dicium, dibisiki, cekikikan, lalu salam perpisahan yang mesra.
  6. Lalu, masing-masing pergi dengan kendaraan yang berbeda.
Waaaah...................... jangan-jangan??? Kami dikira orang sebagai pasangan selingkuhan ya??? Ha ha ha.................. kami berdua pun tertawa kalau membicarakan "kemungkinan-kemungkinan" kesan yang ditangkap oleh orang yang memperhatikan kami. Saat bawa-bawa baby, dikira selingkuh sampai punya anak. Ha ha ha........................

CMIIIW!!! Kok, GR banget ya. Emangnya ada yang peduliin???

EGP. Kembali lagi, kami nggak peduli apakah orang memperhatikan kami atau tidak. Juga sesuka kami kalau kami menganggap orang lain memperhatikan kami. Dasar narcist. He he he.....................

Yang pasti, cara "nakal" kami tersebut cukup mengobati kebosenan kami tanpa harus merusak hubungan indah yang telah Allah ijinkan bagi kami, PERNIKAHAN KAMI. Semoga selalu berkah.

Nah, ngapain janjian, makan siang bareng, ke luar jalan bareng, atau selingkuh sama orang lain jika bisa dilakukan berdua??? Hidup ini kita nikmati dan syukuri dengan membahagiakan diri dan keluarga. Jangan malahan merusak keluarga, tatanan indah yg sudah direstui Allah.
Love you cintaku......................

Rabu, 08 Juli 2009

PRINCESS NANGIS MEMAKSAKAN KEINGINAN???

Princessku sudah 2tahun setengah. Tambah pinter, tambah banyak akal, dan juga tambah banyak akal-akalan. Iya, di usia batitanya ini dia selalu belajar dan belajar apa saja. Semua yang tertangkap kamera cantiknya yang bening bersinar itu, atau terekam oleh kuping indahnya, juga analisa otak cerdasnya meski masih mungil, sangatlah pesat perkembangannya. Seringkali aku, papanya, maupun mas-masnya dibuatnya terkaget-kaget atas tingkah barunya.



Salah satu tingkah yang dia masih eksperimen adalah............... menggunakan tangisan dan teriakan untuk menggolkan keinginannya. Entah itu meniru, hasil pengamatannya dari anak lain yang ternyata berhasil menggunakan trik itu maupun eksplorasinya sendiri atas kemampuan berekspresinya yang memang makin berkembang di usianya sekarang. Ya, di usianya sekarang dia sedang mempelajari, mengeksplore, dan menganalisa hasilnya dengan melihat sikap kami (orang2 di sekitarnya) atas sikap Princess cantik kami ini.

Seperti yang terjadi suatu malam. Princess yang tidak tidur siang, sudah ngantuk dan terlelap saat hari masih sore (belum waktu tidur malamnya). Waduuuuh.............. alamat bisa bangun malem nih. Padahal aku jelas tidak mungkin mengikutinya tidur sore-sore. Hmm............. meski sudah bisa menduga, aku hanya berdo'a dia bobok sampai subuh. So, aku pun bisa tidur tenang hingga subuh menjelang.

Tapi.................. harapan tinggalah harapan. Kenyataan.................. ternyata tak seindah harapan. ha ha ha............................ jauuuuuuh lebih indah!

Saat aku baruuuu saja terlelap dalam peraduan dan mimpi indahku mulai terpampang..............

"Mammmaaaa....................... hoaaaaa.......................... hoaaa................................"
"Ada apa sih cintaku? Kok pakai nangis segala? Mama nggak ngerti maksud adek kalau nangis gitu. Mendingan adek ngomong aja, biar mama ngerti dan keinginan adek bisa tercapai. Lagipula, adek mengganggu papa, mas-mas, juga tetangga yang bobok. Mereka bisa sebel lho."
"Hooaaaa................. adek bla bla bla......................"



Hhhhh................ antara masih ngantuk, berisik, sebel, tapi tetep cinta banget membuatku terbangun dengan sangat tidak nyaman. Apalagi Princess ngomongnya sambil nangis, mana aku ngerti kemauannya??? Juga suara tangisnya yang terdengar berat dari tenggorokan itu membuatku khawatir jika tenggorokannya bisa sakit. Aku juga nggak mau dia nantinya akan menggunakan tangisan dan teriakan untuk menuntut jika usahanya ini berhasil.

He he he.................. meski sebenarnya ini bukanlah usaha pertamanya. Sudah beberapa kali dia melakukan aksi nangis teriak untuk menuntut sesuatu. Dan selalu aku ajarkan bagaimana seharusnya dia menyampaikan keinginannya. Tapi....................... dia tetep mencoba dan mencoba lagi, dan aku haruslah bersabar dan firm dalam mengarahkan bagaimana dia seharusnya bersikap jika menginginkan sesuatu.

"Ok, kalau adek nangis gini, mama males. Mama nggak bakalan mau memperhatikan adek. Apalagi memenuhi keinginan adek. Nggak lah! Mending mama bobok aja, masih malem, ngantuk."

Setelah menyampaikan sikapku, aku berbalik memunggunginya dan pura-pura tidur. Lalu..........
aku merasakan tangan mungil menyentuh punggungku setelah isak tangis dan teriakan berhenti. Ya, aku SELALU konsekuen dengan apa yang aku ucapkan pada berlian2ku. Makanya mereka sudah tahu jika aku ngomong maka bukan gertak sambel, juga bukan janji-janji syurga biar mereka diam.

"Maaa............ adek nggak nangis lagi nih. Adek mau maem."
"Ok, mama ambilin dulu ya, adek di sini aja."
"Adek mau ikut, Ma. Tapi adek kan masih ngantuk, jadi digendong mama ya, biar adek nggak jatuh. Kalau ngantuk sambil jalan kan bisa jatuh."

Gubraaak!!!!

Lha tadi dia minta gendong tapi aku tolak dengan alasan aku ngantuk dan bisa jatuh gendong dia saat ngantuk. Lha kok dia balik sekarang???

Sampai di dapur......................

"Ma, adek nggak jadi maem. Adek mau bawa kereta (baby stroller) ke kamar aja. Mama dorong keretanya adek duduk di dalamnya ya................"

Gubrak lagi!!!!

Karena tadi aku juga menolak mendorongnya di keretanya karena aku ngantuk n capek banget. Lha sekarang???? Secara tidak langsung dia menyuruhku lagi, bukan???? Ok, akhirnya aku dorong juga dia di dalam babystrollernya ke kamar dengan janji sampai kamar saja. Sesudah itu dia hanya akan duduk di sana tanpa aku dorong lagi.

Dia menepati janjinya. Akhirnya kami ngobrol berdua di kamar. Antara ngantuk dan cinta, tetep aja lucu obrolannya karena topik yang dia angkat sangatlah Princess banget. Lucuuuuu................ juga cerdas!

Menjelang subuh, dia bilang sudah ngantuk dan pengin naik ke tempat tidur. Lalu..................... zzzzzzzzzzzzzzz.......................zzzzzzzzzzzzzzzzzz........................... dia sudah terlelap dalam buaian mimpi indahnya.

Akuuuu??????????? Ya mana mungkin bisa tidur lagi jika masjid sudah mengumandangkan do'a bangun tidur???

Ya wis, bangunin papa dan juga mas-masnya agar mereka segera bersiap untuk shalat subuh berjamaah di masjid.

Aku dengan terkantuk-kantuk namun nggak mungkin tidur lagi segera melakukan aktifitas keseharianku. Semoga nanti siang ada kesempatan dan bisa menebus ................ TIDUR!!!