Halaman

Selasa, 26 Maret 2013

Resiko

Kita semua tentu sudah tahu arti kata resiko. Kita pun sering menggunakan kata ini dalam berbagai kesempatan dan keadaan. Jika orang ingin mengatakan tentang konsekuensi atas sesuatu perbuatan sudah menjadi hal yang lazim akan terucap kata resiko.

Demikian juga terhadap berlian-berlianku. Aku mengajarkan tentang sebuah resiko yang harus dihadapi oleh mereka baik langsung maupun tidak. Mereka sejak kecil sudah harus tahu akan adanya resiko tanpa membuat mereka takut berbuat, takut mencoba. Resiko itu biasa. Setiap keputusan, perbuatan, bahkan kata-kata kita selalu berresiko. Bisa baik atau buruk. Jika mereka berbuat baik, berkata baik, bersikap baik, tentunya akan mendapatkan resiko yang baik. Demikian juga sebaliknya. Aku berharap dengan mengetahui hal ini maka mereka akan pandai memilih dan memilah, karena semua ada resikonya.

Aku selalu bilang ke mereka; "Jadilah anak yang bersyukur, kalau dikasih badan sehat, lengkap, ganteng, cantik, ya dirawat dengan makan sehat (kalo nyuruh mereka makan), tidur cukup (kalo nyuruh mereka tidur), dijaga kebersihannya (kalo nyuruh mandi), dll. Allah kasih otak cerdas ya dimanfaatkan dengan benar, diisi dengan ilmu yang baik, yang bermanfaat, bukan dipakai buat main game yang merusak (kalo nyuruh mereka selektif memilih game, bacaan, dll). Dikasih Allah ruh ya dijaga dengan rajin shalat, baca Qur'an, banyak do'a, berbuat yang baik.

Hehehe......pokoke gitu deh. Nah, jika mereka bersyukur, maka mereka menjadi makin pinter, makin ganteng, makin cantik, itu semua hanyalah sebuah resiko karena kita mensyukuri anugerahNya. Ya maaf aja mereka bahkan tidak bisa nolak resiko indah itu seperti juga jika yang dilakukan hal buruk maka resiko yang diperoleh juga buruk. Jadi.......sama sekali aku tidak pernah mengajarkan kepada mereka untuk meraih nilai akademis tinggi, menjadi juara, dsb karena memang itu hanyalah sebuah resiko, bukan tujuan. Dan mereka gak bisa nolak sebuah nilai akademis tinggi jika mereka sudah menjadi anak yang mensyukuri anugerah otak cerdas dariNya.

Suatu hari si cantikku ngeselin banget. Adaaa aja yg membuat dia rewel. Ya namanya juga anak-anak, tidak selalu manis dan menyenangkan. Kadang nyebelin juga. Hahaha........tapi sesebel apapun ya tetep aja aku peluk-peluk penuh cinta. Karena bagiku berlian2ku selalu lucu dan membuatku termehek2 jatuh cinta pada mereka setiap saat, bahkan saat mereka ngeselin. Hehe.... Ternyata dia ingin sesuatu yang dia tahu tidak akan aku kabulkan, makanya rewel karena menyadari bakalan susah bahkan kemungkinan besar banget tidak akan aku berikan.

"Adek kenapa sih? Kan adek sudah tahu kalau gak bakal mama kasih. Kenapa masih coba terus?" bujukku.

'Tapi adek mau mamaaa.......................' teriaknya ngeyel.

"Kalau adek begini, mama jadi repot, mama tidak memberi karena cinta, tapi karena cinta juga mama gak tega lihat adek seperti ini, meski mama tahu ini memang cara adek maksa mama. Jangan nyusahin posisi mama donk sayang...."

'Yaaa...................itu resiko, mama.'

"Kok resiko?"

'Ya iyalah......resiko karena mama jadi orangtua. Repot dan susah posisinya!'

GUBRAAAAAGGGG..........................

Senin, 18 Maret 2013

Ceka Ceki Ceka

Gak terasa sudah cukup lama si cantik princessku bisa membaca. Mungkin aku sudah pernah cerita bagaimana dia belajar membaca ya? Yups....dia ingin bisa membaca, dia ingin belajar membaca, dia minta diajarin baca, karena dia penasaran dengan isi buku. Karena dia anak yang ceriwis, nanya melulu, maka aku dengan sengaja dan demonstratif mencari jawaban pertanyaan dia di buku bahkan jika sebenarnya aku sudah tahu jawabannya. Hihihi......akibatnya dia menjadi sangat ingin bisa membaca sendiri dan tidak lagi harus menungguku mencarikan jawaban jika aku tidak di rumah atau sedang sibuk.

Setelah bisa membaca, berbeda dengan sebagian anak kecil lain yang akan mulai membaca cerita anak-anak, buku kecil, namun princess justru ke mana-mana mengepit buku cerdas yang tebalnya masya Allah.Tentu saja, karena motivasinya bisa membaca adalah untuk mencari jawaban pertanyaannya sendiri, memenuhi rasa keingintahuannya yang sangat besar, maka buku-buku cerita anak yang tipis dan kecil tidak menarik baginya. 

Akhir-akhir ini si cantik kami itu mulai meletakkan buku tebal nan beratnya, dan mulai mengganti dengan buku cerita kecil seperi buku karangan Enid Blyton, dan buku anak-anak lainnya. Berbeda dengan pada saat dia ngefans dengan buku cerdasnya, dimana dia selalu membaca dalam hati, kali ini dia membaca dengan keras. Aku, ayahnya, mas-masnya, juga boneka-bonekanya adalah pendengarnya. Kami sungguh beruntung, karena si cantik selalu membaca dengan intonasi yang indah. Percakapan, narasi, bentakan, tangisan, semua dia baca sesuai ceritanya. Lucu sekali berlian enam tahunku itu, membuat mas-masnya selalu tidak kuat menahan diri untuk tidak menciuminya.

Ceka ceki ceka......kata-kata ini cukup sering kami dengar pada saat dia membacakan kami buku cerita. Rasa ingin tahu artinya, sebenarnya mendera kami semua, tapi kami sungguh tidak tega menyela bacaan indahnya itu. Aku berencana menanyakannya setelah dia selesai membaca, namun selalu saja terlupa karena setelah dia selesai membaca selalu ada saja hal lain yang kemudian menyibukkanku sehingga membuatku tidak jadi bertanya.

Ceka ceki ceka......kemarin kembali aku mendengar dia mengucapkan kata-kata itu pada saat membaca bukunya. Karena sudah lama aku penasaran dan belum pernah terpuaskan dengan mendengar jawaban dari mulut mungil itu, maka dengan berat hati kemarin aku menyela di saat dia sedang asyik membaca.

"Cantiiik........ceka ceki ceka itu artinya apa?" tanyaku gemes sedikit merasa bersalah karena sudah mengganggunya membaca.

'Mama lihat aja sendiri.' katanya sambil menunjukkan kata-kata itu di halaman yang sedang dibacanya. Lalu aku bergegas melihatnya. Tulisan apa gerangan, cerita apa, ungkapan apa, kata apa yang selama ini membuatku dan mas-masnya penasaran.

Dan tulisan yang dia baca dengan ceka ceki ceka itu adalah: "ck............ck..................ck................"

Guuuuubraaaaaggg............................

Senin, 11 Maret 2013

Dokter Juga Manusia

Saat transit di Singapore, aku bertemu beberapa orang Indonesia yang juga akan satu pesawat denganku ke Jakarta. Waktu transit yang agak lama (beberapa jam), capek yang teramat, mungkin juga beda waktu dan perubahan suhu udara yang tiba2 membuatku merasakan ngantuk berat sementara tidak ada kesempatan untuk memejamkan mataku barang sejenak. Untuk mengatasi rasa kantuk hebat yang menyerangku, umat ngobrol dengan mereka. Rupanya mereka rutin ke Singapore untuk berobat. Alasan mereka bukan karena mereka kaya raya, sombong, atau gaya, tetapi mereka punya pengalaman yg kurang nyaman berobat di negeri tercinta. Tidak hanya masalah pelayanan, ketepatan diagnosis dan pengobatan, namun juga masalah BIAYA! What?? Ternyata pengalaman mereka bahkan masih murahan berobat ke tetangga dibanding di sini. OMG!!??? Really?? Ciyus?? Enelan? *kumat...abaikan*

Aku jadi teringat pengalamanku sendiri

Beberapa tahun lalu. Saat itu pacarku tercinta tengah malam mengeluh sakit perut yang sangat. Malam itu juga kubawa dia ke RS terdekat. Aku mengemudi mobil sangaat pelan karena goncangan kecil saja membuatnya menjerit kesakitan layaknya saat aku sakit perut karena mau melahirkan. Paniklah aku tentunya. Sakit apa gerangan cintaku itu? Meski perutnya lumayan ehem....tapi gak mungkinlah mau melahirkan kek aku. Ya to?Hehehe.......love u cyn.....

Sendirian membelah malam tak peduli dan gak mikir apapun selain dia segera mendapatkan pertolongan dari ahlinya. Dokter!! Setelah masuk UGD, cek sana sini, atasi sakitnya dg pengobatan darurat, observasi singkat, lalu diputuskan untuk rawat inap. Dan aku pulang karena ada adikku yg dokter untuk menjaganya dan aku harus ngurusi anak2 di rumah serta nyiapin biaya yang mungkin akan diperlukan segera. Setelah dilakukan berbagai observasi secara lebih detail, maka didiagnosa terjadi infeksi usus buntu (apendisitis) dan harus segera dioperasi. Akupun diminta mengurus segala keperluan pra operasi pagi hari saat aku sudah sampai RS lagi.

“Ibu silahkan ke kantor untuk mengurus surat kesediaan untuk dilakukan operasi.”

“Kenapa suami saya harus dioperasi?”

“Terjadi infeksi usus buntu, Bu.”

“Ok, mana buktinya?”

“Maksud Ibu?”

“Ya bukti kalau memang usus buntunya harus diambil.”

“Dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan lain lain menunjukkan hal itu. Adik ibu yang dokter juga sudah kami libatkan dalam pemeriksaan dan pengambilan keputusan ini.” Tim dokter berargue denganku yg awam medis tapi ngeyel. Padahal mereka sudah melibatkan adikku yg juga dokter dan kepala UGD di RS lain. Dan adikku sudah sepakat dg mereka. Lha kok aku berani2nya gak setuju, ngeyel, sotoy?!! Dasar Dewi!

“Saya tidak akan tanda tangan persetujuan operasi kalau saya belum melihat bukti kuat yang meyakinkan saya (foto/USG/lainnya) bahwa perlu dilakukan operasi. Tapi, saya juga tidak mau sampai terlambat kalau memang perlu dilakukan operasi.”

"!!!!!!!!!!!????????? Berarti harus banyak lagi dilakukan tes, Ibu.”

“Ya lakukan segera, kenapa malah ngajak saya berdebat. Saya buta masalah ini. Jangan buang waktu lagi, kasihan suami saya. Tapi tolong ya Dok, jangan juga dilakukan test yang tidak seharusnya.” Hihihi.......intimidasi juga dikit, lha soale pernah denger temen dilakukan berbagai tes yg ga jelas buat apa di sebuah RS mahal di antah berantah sana.

“Tapi Ibu, biayanya sangat mahal.”

“Dok, uang urusan saya, saya akan mencari, dengan berbagai cara saya untuk mendapatkan uangnya. Itu tugas saya sepenuhnya. Tugas dokter mengupayakan kesembuhan suami saya dengan baik. Apa dokter mau dan sanggup mengembalikan luka perut suami saya seperti semula karena dioperasi jika sebenarnya operasi itu tidak perlu dilakukan?” Tantangku ngasal. Blo'on tp byk omong! Dasar Dewi!

Ya ampuuuun....maafkan aku ya dokter2 yg baik......itu kulakukan demi cintaku pada pacarku itu, ayah anak2ku, sekaligus aku gak mau emosi main setuju saja karena kan dokter  Bisa aja salah dan lupa. Sebagai keluarga pasien aku merasa wajib mengingatkan dengan kengeyelanku dan pasti nyebelin. Maaaf........hehehe.......

“Baik, kami segera lakukan tes-tes yang diperlukan.” Segera mereka menyebar memberi instruksi ke suster2 yang lalu membawa pacarku tercinta pindah2 ruang sini situ untuk menjalani pemeriksaan. Bahkan perlu pindah RS sejenak jika peralatan kurang mendukung. Aku pun ikut lari2 dan nguing2 naik ambulance jika harus ke RS lain sambil menghibur si ganteng yang kesakitan. Duuuhh......kasihan sih sebenarnya dia didorong sana sini, periksa ini itu. Tapi gimana lagi kan? Aku gak mau salah langkah.

Hasil observasi menyeluruh itu, ternyata pacarku yg ganteng itu usus buntunya baik-baik saja (Tuuuuh.... kaaan......) Hanya, ada batu keciil..... di saluran ureter yang menyumbat air seni yang menyebabkan rasa sakit luar biasa yg gejala klinisnya mirip peradangan usus buntu.

Kali ini, sebelum diambil tindakan, dokter spesialis urologi menjelaskan panjang lebar kepadaku tentang penyakit ini serta semua alternatif penanganannya untuk kupilih. Bahkan pakai slide dan berbagai contoh gambar hasil rontgen. Aku juga diajak ke ruangan khususnya untuk menjelaskan lebih detail. Aku juga diberi kebebasan menentukan berbagai alternatif penanganan, setelah dijelaskan juga secara detail. 😳 Tentu saja aku memilih yg paling minim resikonya, hihihi......yg gak usah dioperasi!

“Nah, Ibu sekarang bisa bilang ke adik Ibu yang dokter umum, bahwa Ibu sekarang sudah dokter spesialis. Karena materi yang saya jelaskan ke Ibu tadi adalah materi spesialis urologi yang biasa saya berikan ke mahasiswa spesialis saya. Suami Ibu sangat beruntung terlepas dari kesalahan diagnosa. Namun, kesalahan ini bukan malpraktek Bu, karena memang tanpa pemeriksaan yang sejeli yang Ibu minta, semua mengarah ke peradangan usus buntu. Adik Ibu sendiri saksinya kan. Biasanya keluarga pasien keberatan jika harus tes ini itu bu. Terutama biayanya.”

“Ok. Terimakasih byk Dok, saya ngerti kok, dan maaf kalau saya cerewet dan sok tahu. Saya juga keberatan biayanya kalau untuk pemeriksaan yang tidak seharusnya sih Dok.” weew........payah si Dewi mah......

Sebenarnya aku malu banget sudah sotoy bin sok kaya gt. Tapi pigimana lagi kan? Aku gak rela perut pacarku yg agak ehem itu dirobek padahal belum tentu perlu. Yah kalo masalah uang aku tinggal minta padaNya. Kalo emang perlu, PASTI Dia kasih entah gimana caranya. Jadi aku bukan merasa sok kaya tapi aku punya bekingan yg Maha Kaya. Apa sih susahnya minta?

Ternyata sebagai pasien (& keluarganya), kita harus ikut serta membantu dokter yang kadang salah, lupa, lalai, demi kepentingan kita sendiri juga (kan dokter juga manusia!). Tapi kan.......namanya orang tercinta sakit kan kitanya sering gabisa berpikir jernih ya? Emosi gitu kaaaaan....... Piye jal?! Karena pengalaman teman lain, malah dilakukan test macam2 yg muahaaal padahal ternyata gak ada apa2 yg berkaitan dg tes itu! Apa memang institusi kesehatan kita kurang bisa diandalkan? Harusnya sih tidak ya? Kan 'katanya' sdh super canggih, sdm nya? Jenius2? Entahlah.......

Lalu Apa hubungannya dg berobat di Singapore? Ga ada sih...... hahaha....... .gak sampai kubawa dia ke Singapore. Tapi dengar cerita ibu2 di airport waktu itu.......jadi kepikiran gak?? Lebih murah? Hihihi.....dasar emak2 ngirit gw! Denger kata murah, pelayanan ok, langsung deh tuing tuing gaje. Meski aku sebenere lebih suka kalo Indonesialah yg kek gitu, jd rujukan negara lain yg mau berobat. Karena Indonesia kaya raya tanaman obat dan sdm dasyat!

Nah!! Ini nih yg harusnya jd bahan studi banding para pengambil keputusan. Gimana bisa penanganan tepat, pelayanan ok, tapi muraaaahhhh!!! Bukan malah studband nya yg gak gak aja, gaje, mana tanpa ada laporan lagi ke bosnya........ Ke rakyat! Hehehe.........sotoy nya kumat!!! Maaf.

Semoga ke depan pelayanan kesehatan kita makin ok. Tdk peduli apakah itu ke masyarakat miskin, kaya, pejabat, ataupun rakyat jelata, semua mendapat pelayanan yang semestinya. Penanganan segera! Dan sesuai kondisinya! Murah pula!!!? Jangan juga mengada2 tes ini itu yg ga ada gunanya, pun mahal!!

Wassalamu'alaikum, selamat maksi bagi yg gak puasa. Selamat puasa bagi yg puasa.

Salam sehat,

Dewi sta'87
Jangan membenarkan yang biasa, tetapi biasakan yang benar!

http://mama-ibuindonesia.blogspot.com
http://www.berlianbangsa.com

Selasa, 26 Februari 2013

"NDESO"

Kiriman seorang teman.......

oleh : Ika S. Creech *)

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum sama seperti dia. Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias ndeso.


Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan umum, sementara pejabat Indonesia yang akan dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan yaitu Mercedes Benz.


Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara dari jarak yang sangat dekat, yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan China, sudah menyelesaikan Docktor, sekarang sedang mengikuti program Post-Doc, Dia anak seorang pengusaha yang kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari perguruan tingginya.


Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat orang menggunakan HP Nokia Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah saya baca koran, ternyata konsumen terbesar HP Nokia Communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso siapa ya?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah mengetahui riwayat pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata rumah di Jepang memiliki tinggi plafon yang bisa digapai dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun banyak yang lesehan.


Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana negara dan benteng pertahanan(khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana
raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Jawabannya di Masjid. Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah menikah dengan janda kaya, di Madinah menjadi kepala negara, mempunyai hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.


Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak
bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak perayaan yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst..... Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah, korupsi berkurang, pendidikan terjangkau, sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar terhadap kekuatan global, serta geopolitik dan geostrategi yang disegani. Maka orang
Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan dana untuk sepak bola 17 milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!!


Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli TV dan kulkas
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa-dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang juga digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini
bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja
sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.

Senin, 04 Februari 2013

Djasmerah....Jangan Sekali2 Melupakan Sejarah

Aku gak ngerti dengan kondisi pemikiran bangsaku (elite politik utamanya) sekarang ini. Sakjane mereka mikirin negara, mikirin partainya, mikirin golongannya, atau mikirin diri sendiri? Ribuuut aja! Simpang siur berita membuat rakyat (eh....aku sih) tambah gaje, kesanku kok pada kepo gitu. Keknya pada merasa paling bener, paling hebat, paling lurus, lha malah yang menyedihkan kok kesannya ada yang merasa paling suci, maksum, gak mungkin salah apalagi dosa! Gubrag banget deh.......ditambah seolah orang di luar kelompoknya pasti salah, harus ngertiin mereka, tapinya mereka sama sekali gak mau ngertiin orang lain. Dll...

Belum lagi yg sukanya ngebanggain si ini si itu yg notabene bukan orang Indonesia, bukan KITA...Padahal kalo mau lihat sejarah, haeiiii.......bangsa kita, orang kita sendiri hebat2.

Nih aku copas in tulisan temenku yg TOP deh menurutku;

Saya sedih melihat banyak orang Indonesia senang mendasarkan referensi pemikiran, anutan biografi pada orang-orang asing, mereka terasing dari sejarahnya sendiri, mereka terasing dari pemikiran nenek moyangnya sendiri.

Banyak yang lebih bangga mengutip bab-bab pemikiran Machiavelli dalam buku kecilnya Ill Principo, atau Sang Pangeran ketimbang membaca buku kisah Para Negarawan dalam Pararaton, mereka lebih hapal soal raja-raja Arab ketimbang raja bangsa sendiri, mereka lebih paham soal Salahuddin Al Ayubi tapi tak tau siapa Panembahan Senopati, siapa Iskandar Muda, mereka senang menangisi Imam Ali, tapi tak mengerti bagaimana Aryo Penangsang dibunuh atau Syekh Siti Djenar memberikan pelajaran tentang cinta pada Tuhan, mereka menyenangi puisi-puisi Gibran atau tarian Rumi tapi tak pernah mengerti kidung-kidung Sunan Kalijogo, tembang Asmaradhana atau bait gurindam serta olah batin yang diajari orang-orang kita terdahulu.

Mereka suka bicara Che Guevara tapi nggak tau soal Peris Pardede atau cerita soal Yunan Nasution, mereka suka cerita soal Daniel Ortega menyerbu pasukan pemerintah Nikaragua dan membangun gerakan sandinista tapi banyak yang tak tau cerita Mayor Untung diterjunkan ke Irian Barat dan menghantam 8 orang pasukan Inggris dan Belanda sendirian dengan belati, banyak yang hapal soal Jenderal-Jenderal bangsa lain tapi tak paham soal Dading Kalbuadi atau Witono, mereka suka penyerbuan D-Day tapi tak tau aksi gerilya soal Chaerul Saleh yang nenteng senjata di seputaran gunung gede dan ditembaki pasukan Nasution. Mereka bicara soal revolusi Sovjet tapi ketika bicara tatanan resopim dan pantja azimat revolusi dikiranya hanya sekedar jimat, mereka fasih bercerita soal ekonomi terencana Mao atau Rancangan Ekonomi New Deal FDR tapi jarang dari mereka membaca rancangan ekonomi Djuanda dalam Deklarasi Ekonomi 1960, mereka suka membesar-besarkan Ho Chi Minh dan mengecilkan arti Jokowi dan Bung Karno yang telah berkeringat membentuk peradaban bangsanya, setara atau tidak setaranya tokoh bukan ditentukan pada skala tapi ditentukan pada persepsi kecintaan, mencintai tokoh bangsa sendiri daripada bangsa asing adalah awal kita membangun rasa percaya diri sebagai bangsa.

Mereka naif bangga dengan apapun yang dari luar, padahal sejarah banyak mengajarkan pada kita bahwa orang tua kita sudah memberikan ilmu yang luas untuk kita belajar, belajar apa yang terjadi pada bangsa sendiri.

Mungkin hanya Sukarno dan Suharto, Presiden  yang tahu soal bagaimana negeri ini bersejarah secara otentik sehingga mereka mengerti apa yang dimaui bangsa ini, apa suasana batin bangsa ini ditangkap dalam kebijakan publik mereka.

Hakikat Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah atau Djasmerah, bukan soal kembali menyelami arti zeitgeist (semangat jaman) dimasa lalu, tapi juga pertama-tama adalah komplit soal referensi bangsa sendiri. Dan bangunlah dalam hatimu mencintai bangsa ini seperti mencintai tanpa sebab, sebab cinta yang tulus adalah cinta tak terdefinisi, mencintai bangsa ini harus dengan dasar bangga, sekali lagi bangga.

-Anton DH Nugrahanto-.

Sabtu, 19 Januari 2013

A Boy Become A Man


Tercenung saat aku mendengar komentar beberapa orang, baik teman, saudara, maupun tetangga, dan kenalan tentang bagaimana aku mendidik berlian2ku, menyiapkan mereka sebagai generasi masa depan. Sejak mereka kecil hingga sekarang, yang menurut mereka aku tuh aneh. Hehehe......masa siy? Perasaan aku biasa2 aja kok. Mungkin aku terlihat aneh karena aku gak sepinter mereka, gak sehebat mereka, jd kelihatan aneh bagi mereka. Hihihi...... Maklumi aja donk kekuranganku. Ocre??

Termasuk keputusanku merelakan gantengku merantau.

"Ya ampuuun.......kamu tega Wi, ngelepas anakmu sejauh itu? C'mon......dia masih belasan tahun, baru lulus SMA. Kamu tega lepas dia ke kehidupan bebas di luar sana? Kalo gw sih...ntarlah S2. S1 terlalu nekat. Benerin dulu shalatnya, pergaulannya, bla...bla.....bla......" Ups......dia bener!!!

"Waaah.......mbak Dewi hebat ya, berani nglepas anaknya jauh di negeri orang. Aku belum berani tuh meski anakku sudah lulus S1. Gak sampai hati rasanya. Gimana kalau dia kesulitan dan kita jauh? Kok tega ya......." Ups lagi.......jangan2 dia bener juga!!

"Bu, apa gak khawatir anaknya terlibat pergaulan bebas? Serius jadi ngijinin anaknya jauh? Apa gak diberesin dulu shalatnya, tingkah lakunya, akhlaqnya?" Duuuh........bener lagi!!

Dan masih banyak lagi komentar2 lainnya. Yang positif, menganggapku telah membuat keputusan bagus, aku hanya mengamini saja semoga perkataan mereka menjadi do'a. Yang negatif, cenderung mengecam, menghakimi, menyalahkan, hhh....membuatku galau, merasa bersalah, bodoh, kadang tersinggung, namun membuatku introspeksi diri jg. Jangan-jangan keputusanku memang salah? Tapi Ya Allah.......itu sudah menjadi sebuah keputusan, sudah dijalani, maka aku hanya berlindung padaNya, semoga Allah mengampuniku dan menjaga berlianku, anakku, cintaku, belahan jiwaku, milikNya yang sangat berharga dan sangat dicintaiNya itu. Aku harus yakin Allah pasti menganggapku bisa ngurus berlian indahNya itu, terbukti aku dipercaya menjadi ibunya. Ya to?? Hehehe.... *numpang bangga dulu ah, dipercaya sama Dia*

Usahaku menyiapkan dirinya sebenarnya sudah aku lakukan bahkan sejak aku memilihkan seorang ayah baginya, saat aku memutuskan memilih menikahi seorang laki laki yang kuanggap pantas sebagai calon ayah dari anak anakku. Lalu setelah mereka hadir dalam kehidupanku, kudidik sepenuh hati dengan tanganku sendiri, bukan kuserahkan ataupun kudelegasikan  pada pengasuh atau siapapun (karena gak kuat bayar pengasuh sekelas aku kali ye) sampai kemudian berlianku lulus SMA, rasanya sudah cukup. Jikapun belum, semoga Allah melengkapkan dengan berkahNya. Kini tugasku hanya menemaninya dari jauh, memeluknya erat dalam do'a di setiap tarikan nafasku, mendengarkan segala keluh kesah maupun keriangan remaja dewasanya melalui pembicaraan2 penuh cinta kami melalui tehnologi, serta membantunya membuat keputusan melalui masukan dan saran. Meski kadang dia sok dewasa gak mau minta saran yg akhirnya salah.....ngek ngok...... *salah itu pelajaran juga*

Sambil mengevaluasi keputusanku itu aku kembali mempelajari bagaimana ibu-ibu hebat (karena aku gak hebat makanya harus belajar dari mereka) yang sudah mendidik anak-anak hebat mereka,  menyiapkan anak-anak mereka menyongsong masa depan. Terutama yang mirip2 dengan kasusku. Menyiapkan seorang anak laki-laki menjadi pria dewasa yang siap menyongsong masa depan, yang siap membawa negerinya ke masa kejayaannya, negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, menjadi surga dunia yang penuh berkah Allah. Seperti cita-citaku sebagai anak bangsa.

***Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902, menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond tahun
 1916, yang berarti baru berusia 14 tahun, lalu pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam, artinya usia 19 tahun sudah mengembara ke Belanda menuntut ilmu. Dan siapakah tidak mengenal Bung Hatta? Salah satu proklamator kita. Ekonom hebat kita yang usia 24 tahun sudah memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis, lalu saat usia 25 tahun sudah mengikuti kongres internasional yang diadakan di Brussels yang Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial. Dst......dst.......*** kereeeen..........ini buku bisa untuk belajar dan memotivasiku.

Ahaaa...........apa bedanya Bung Hatta dengan berlian gantengku? Mereka berdua sama2 pemuda Indonesia, bukan? Lalu kenapa aku harus takut melepaskan pujaan hatiku itu untuk menimba ilmu, meraih asa, menggembleng dirinya nun jauh di sana? Mana tahun 1921 tentu tidak secanggih sekarang. Hebat sekali ibunda Bung Hatta, tentunya sangat berat melepas buah hati sejauh itu. Aku masih beruntung bisa ngobrol dengannya setiap hari, bisa melihat wajahnya tanpa terbatas jarak, mendengar suara tanpa terhalang benua, mengetahui kabarnya bahkan tiap menit yang aku mau tanpa terhalang samudra raya nan luas. Tidak harus terbang semalaman jika aku ingin melihat wajahnya, mendengar suaranya, mengetahui kabar beritanya.

Hmm.......belagu banget loe Dew, nyamain anak loe sama Bung Hatta sang proklamator. Hehe.....maaf, bukannya dulu Bung Hatta juga hanya pemuda biasa? Sama kan dengan berlian gantengku? Apa kalian tahu suatu hari nanti anakku jadi apa? Tidakkah kalian pikir bahwa anakku juga sangat mungkin akan sehebat Bung Hatta nantinya? Atau................... lebih hebat malah? Bukankah masa depan masih misteri? Tugas kita hanya menyiapkan diri.

Bener banget, shalat harus terjaga dulu. Tapi............bukannya urusan jaga shalat anak harusnya kita lakukan sejak mereka kecil? Bukan setelah mereka remaja beranjak dewasa. Lalu kapan kita belajar mempercayainya bertanggungjawab atas ibadahnya kalau bukan saat dia masih remaja beranjak dewasa? Namun tentu saja aku tetap memantaunya, mengingatkannya, dan menegurnya jika dia lupa, lalai, atau terlena. Sebagai ibu, sebagai orangtua, kita tidak akan pernah pensiun. Mendidik anak itu tugas selamanya, tugas abadi dariNya. 

Tapi.....lagi, berilah ruang pada anak. Apa iya harus menunggu mereka dewasa/tua untuk melepasnya? Lepaslah biarkan mereka terbang mengarungi angkasa kehidupan, di saat kita masih sanggup mengawasinya. Itu pendapatku. Bisa saja salah. Tapi itu yang kuyakini dan kujalankan.

Pergaulan? Rasanya di mana-mana pergaulan sama saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana kita memegang prinsip kita. Yang pasti.......................aku yakin seyakin2nya bahwa Allah akan selalu menjaganya, karena dia berlian kecintaanNya. Aku hanya bisa selalu menjaga berlianku itu dengan menjaga hubunganku denganNya, menemaninya dengan do'a do'a tulusku, memeluknya dengan shalat malamku, menyemangatinya dengan diskusi-diskusi seru kami, menengoknya untuk membuatkan makanan kesukaannya, menegurnya, memarahinya jika salah, mengapresiasinya, lalu memeluknya dan meyakinkannya bahwa dia selalu menjadi buah hatiku, kecintaanku, belahan jiwaku, dan kemudian upaya paling pentingku adalah selalu menyerahkannya dalam lindungan abadi Sang Pemilik, Allah. 

Jika ada keperluannya yang sulit aku berikan karena keterbatasanku, maka aku akan minta padaNya. Sebesar apapun permintaanku, aku yakin itu hanya hal kecil bagiNya untuk mengabulkan. Jadi kenapa aku harus ragu meminta padaNya?! Bahkan yang mustahil bagiku pasti hanya hal mudah bagiNya.

Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah akan menjadikannya laki-laki yang bermanfaat bagi agama, dunia, bangsa, negara, masyarakat, orangtua, keluarga, juga adik-adiknya di masanya nanti. Aku hanya harus menyiapkannya semampuku. Aku memang tidak menyiapkanya sekedar supaya pinter, sekedar supaya mendapatkan pekerjaan bagus nantinya, sekedar supaya kaya, atau bahkan sekedar supaya dia bisa menciptakan lapangan kerja. Tidak! Kusiapkan dia tidak sekedar untuk itu. Diakui atau tidak, dia adalah bagian dari mimpiku, visi misiku dalam hidup. Karena sudah kutanamkan sejak dia di perutku, keknya dia setuju deh dg mimpiku itu atas dirinya. Dia ada dalam proposalku padaNya. Semoga mimpiku, upayaku, do'aku diijabahNya. 

Hahaha........siapa bilang anak punya mimpi sendiri? Kita bisa membentuknya bahkan sejak kita belum menikah dg menyiapkan diri kita. Lalu kita tanamkan terus menerus sejak dia di perut. Hehehe......enak kan jadi ibu? Lha Bung Karno jadi seperti itu jg karena ibunya lho; "Kamu adalah putra sang Fajar nak." Dst...... Begitu ibunya mengatakan setiap pagi sambil Soekarno kecil dipangku di depan tungku saat ibunya masak. Juga tokoh lainnya.

Gitu, Sehingga aku bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang jika sudah saatnya harus 'pulang' ke haribaanNya. Tidak masalah jika sekarang aku harus 'berdarah-darah'.
*****


The end, itu aja sharingku.......


Yg ini curcol, uuuh.......sebel! Hahaha.......gak sebel kok, hanya sewot. Eh.....ga sewot juga ah. Biasa aja.... Kadang suka malah karena kenyinyiran mereka mencambukku untuk introspeksi diri.

Sering dalam hati (karena sulit kuungkapkan) ingin kukatakan pada mereka yg menganggapku kejam, tega, atau cap buruk lainnya, bahwa:

*jgn dikira aku tega nglepas dia, krn aku saat ini menyembunyikan tangisku sambil ngobati tangannya yg (hanya) luka kecil kena penggaris saat bikin tugas gambar* hikcs.......love u darling ganteng maruteng cintaku

*jangan dikira aku tega jauh darinya, krn saat ibu lain bisa ninggalin bayi 3 bulannya setiap hari, bisa nukar ASI dengan sufor dengan alasan apapun, bisa memberi ASI perah pake botol, aku mati2an memberi haknya sampai sakit pada awalnya, aku berusaha menyusui langsung sambil memeluknya dan memberinya senandung (sumbang) ku, bahkan aku dulu juga berurai air mata jika harus pisah darinya sekedar ngantor* makanya sering kubawa.....iiiih gak profesional banget deh!!

*jangan dikira aku tidak khawatir akan dia, setiap saat aku mengiba mohon lindunganNya yg aku yakin jauh lebih ampuh daripada lindunganku, pelukanku, dan keberadaanku di dekatnya.....saat dia sdh remaja dewasa kini* lha kalo waktu bayi aku peluk2 terus krn akulah malaikatNya di dunia yg bertugas jagain dia siang malam.

*bahkan jika aku nyelolahin ke sekolah 'biasa' juga jangan dikira karena aku pelit atau anakku bodoh, hanya karena uangku terbatas saja kok. Hehehe.....sama aja yak? Tapinya suer, anakku ga sebodoh aku. Kalo cuma sekolah nggulan mah ngantri deh....... (siapa yg ngantri coba?) pokoke ada aja*

Tapi sekali lagi itu hanyalah pendapatku pribadi yang punya sangat banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karenanya aku harus berusaha jauh lebih keras dibanding ibu2 lain yang memang juga jauh lebih hebat dariku. Begitulah aku, mungkin saja karena kebodohanku, maka otakku gak sampai jika harus mengikuti cara berpikir orang pintar. Makanya aku terlihat aneh. Mmm......kalo kata iklan sih brarti mungkin karena aku ga minum t*l*k *ng*n makanya gak pintar. Qeqeqeq........emang bener kok aku ga pintar, apalagi kalo ukurannya spt sekarang.

Untung pacarku cinta banget sama yg aneh n ga pintar gini. Hehehe......... Ya kan cinta? Iya aja ya....... *wink*

Salam menyiapkan generasi, just persistent! 

Dewi sta'87

# semalam kami ngobrol seru ttg politik.....pan kapan kuceritain, smg ga bosen pada.

Kamis, 17 Januari 2013

Endless Love.....


Sambil melihat salah satu rahmat Allah, keindahan kapas kapas kecil putuh bersih namun dingin, salju, berjatuhan dari langit, lalu mereka berkumpul di tanah membentuk hamparan permadani putih nan lembut, aku teringat si cantikku, Princess. rasa kangenku membuatku ingat berbagai tingkah polahnya maupun ucapan ucapan cerdasnya. Allahu Akbar, sungguh Maha Besar Dia yang begitu pemurah memberiku anugerah indah berlian berlian itu........yang senantiasa menghiburku dan membuatku tersenyum walalu apapun keadaanku. Ini salah satu tingkah lucunya.......

Princess kecilku suka banget nari, juga nyanyi dan melukis. Hehe....wajar kali ya, aku dulu juga suka nari. Sejak kecil aku latihan nari Jawa meski diseling tari daerah lain seperti tari Bali, Sumatra, Betawi, dan juga tari modern. Seminggu dua kali ada guru tari yang datang ke rumah untuk melatihku, kakakku, dan adikku. Ya anak perempuan di rumah kami sejak kecil belajar menari. Entah kenapa, tapi aku suka. Kata bapak kami harus mengolah rasa dan raga selain olah pikir, salah satunya melalui tari tradisional. Sedangkan pacarku, ayah si cantik tentunya, suka dan pandai bermain musik sambil nyanyi. Juga pinter melukis. Mungkin karena itulah princess suka menari, menyanyi, dan melukis. Sedangkan mas masnya suka main musik, nyanyi, dan melukis. Tidak ada yg suka nari meskipun si sulung akhirnya sering tampil menarikan tarian tradisional semisal tari Saman di sini.

Tidak hanya lagu anak2 yang dinyanyikan oleh bidadari kecil kami itu, tetapi juga lagunya mas masnya yang memang juga suka bermusik. Ada yang main band dan sering diundang untuk tampil di sekolah lain malah. Duuuh......gimana lagi, untungnya mas masnya juga ikut aktif mengarahkan adik cantiknya itu agar pandai memilih lagu. Secara, dia sudah pintar mencari sendiri di Youtube ataupun buku musik.

Suatu hari saat kami berdua berkendara, di radio sedang diperdengarkan lagu jadul yang aku suka, Endless Love. Lha kok dia juga tahu lagu itu dan dia tahu aku suka. O M G rupanya aku gak aware kalau dia memperhatikanku selama ini tentang lagu kesukaanku dan lagu kesukaan ayahnya yaitu HOME. Ok aku gak bisa mengelak, maka kami berdua nyanyi sambil menikmati kemacetan jakarta.

Setelah lagu berakhir, princessku nyeletuk; "Mmmm.....adek tahu lho siapa endless love nya mama." gubraaggg.... What??? Emang dia tahu apa arti endless love? Pikirku dalam hati. Tapi aku berusaha tenang, sok kalem gitu, meski kaget.

'O ya? Siapa coba?' tanyaku penasaran dengan isi kepala cantik berambut kriwil itu.

"'Ya pasti tahulah.....Mama mau nebak?" Lho?? Kok malah balik nanya to cantik?

'Iiih.....ya adek pasti tahulah, jelas jelas Papa gitu endless love nya mama.' jawabku gemes.

"Ya bukanlah Ma......iiiih....Mama ini sotoy banget sih, bilang pasti pasti ternyata salah."

Ya Allah......galakan dia! Waduuuh.....kok dia bilang salah sih? Emangnya dia pikir aku cheat dari ayahnya apa ya? Lalu siapa yang dia maksud? Perasaan gak ada siapa siapa yang patut aku sembunyikan sampai dia perhatiin gitu sebagai endless love ku. Gggrrrrhhh...... Penasaran gak sih?

'Lah emangnya siapa dek? Kan yang jadi suami mama itu papa, ya berarti dialah endless love nya mama.' jawabku ketir ketir, takut dia mengira seseorang entah siapa yang mungkin saja kolegaku (karena princess sejak kecil jadi buntutku) adalah endless love ku. Tapi.....perasaan aku cukup menjaga pergaulan, gak gimana gimana yang membuat orang lain salah sangka. Ufff.....jadi kek remaja takut diinterogasi mamanya aja deh aku rasanya.

'Ok ok mama nyerah, emang siapa endless love mama?' tanyaku pasrah.

"Gini ya ma, kalau Papa itu first love nya Mama." heks......kaget aku dengernya. Dia tahu first love?

"Nah.....mas Hafizh itu second love nya mama......" dst dia jelasin satu persatu mas masnya sebagai cintaku yang ke berapa.

"Jadi.......Mama......ya adek inilah endless love nya Mama. Kan adek anak paling kecil. Ya berarti cinta terakhir mama ya adek. Gituuu...." dia menjelaskan dengan sungguh sungguh sampai tangannya berseliweran menekankan perkataannya, sambil mulutnya monyong sana sini bikin aku gemes. Andai gak nyetir pasti dia sudah aku kremes sambil kuciumin sampai dia cekikikan kegelian.

Masya Allah...... Miss U madness........My Endless love.......

Dewi sta'87
Jangan membenarkan yg biasa, tapi biasakan yg benar

Sent from my iPhone

Jumat, 04 Januari 2013

Tidak Harus Hebat Untuk Menjadi Hebat


Selama ini banyak yang secara pribadi bertanya tentang aku, pacarku, dan berlian2ku. apakah kami senang terus, apakah berlian2 kami hebat2 sehingga kami tidak pernah marah sedih atau punya masalah? Ow......tentu tidak! Kami biasa biasa aja, banyak kekurangan, keburukan, kesalahan, kesedihan, kemarahan. Tapi apakah keburukan, kesedihan, kemarahan harus disebarluaskan? Ups......tapi ternyata tetap banyak yang ingin tahu juga tentang bagaimana kami jika sedih marah susah dan ada masalah. Oook, sekilas aku cerita, tapi tentu aku tidak akan mengumbar keburukan orang lain meski itu suami dan anakku sendiri. Kalau keburukanku ya banyak dan sdh pada tahu to? Beruntung aku bersama orang orang yang mengerti dan membuatku tidak seburuk itu. ehem......

Aku hanya akan berbagi, semoga ada pelajaran yang bisa diambil. Setidaknya.....pelajaran agar tidak seperti kami (eh...aku) jeleknya.

Setelah muter muter memenuhi undangan ke beberapa urusan ke negara tetangga, semalam aku kembali nengok studio mungil tempat berlianku tinggal. Ngobrol bertiga dengan ayahnya via skype hingga larut malam (bagi kami) setelah ayahnya subuh di Jakarta sana sebelum berangkat ke kantor. Lalu pagi ini sambil sarapan berdua dengan menu Indonesia 'ala chef Mama, kembali si ganteng harus mendengar tausiyah (uhuk.....keren amat tausiyah?) lebih tepatnya ocehan dariku yg mau gak mau harus dia denger dan terima sebagai emaknya, emboknya, ibunya, yang kata orang sih malaikatnya di dunia. Jiaaaah.........tetep aja minta pengakuan!!! Iyalah.....sebelum kutinggalkan dia karena aku ada janji lagi ke Prancis minggu depan, maka aku tidak menyia nyiakan waktuku bisa berduaan dengan ABG gantengku ini. Time to Ngoooomel!! 😜😍💬💓

Ya, aku, suamiku, bukanlah manusia hebat yang sempurna. Maka aku juga harus tahu bahwa berlianku juga bukan anak hebat yang sempurna. Jika aku sadar bahwa aku mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan, maka aku juga harus menerima jika berlianku pun mempunyai kekurangan dan kesalahan. Tugasku adalah introspeksi diri, memperbaiki diri, dan berusaha meminimalisir kesalahan, jika ingin berlianku melakukan hal yang sama. Setelah melihat lihat kondisinya, menginvestigasi (sifat auditornya kumat) segala hal tentangnya, aku menemukan beberapa hal yang harus kuperbaiki dan kukoreksi, memberi masukan dan kadang kemarahan jika diperlukan, lalu setelah itu kupeluk dan kuusap rambutnya sambil kucium keningnya dan kukatakan, "Bagaimanapun kamu tetaplah berlian Mama, belahan jiwa Mama, kecintaan Mama." Hehe......terkadang dia juga masih menyurukkan kepalanya itu ke pelukanku ke pangkuanku, entah karena merasa bersalah atau karena memang dia anakku yang tentu sampai kapanpun akan butuh meletakkan bebannya ke pangkuan dan pelukanku.

Jangankan jauh, yang berdekatan ketemu setiap hari saja masih sering bukan, anak anak melakukan kesalahan dan kita harus menegur atau memarahinya? Dan lalu emak n ayah yang harus mencari solusinya...... Demikian juga berlianku ini. Disamping kebanggaanku karena dia bisa survive di negeri nan jauh sendirian, dia diterima di 4 universitas pilihannya sehingga bingung milih mana, bisa menguasai arena di kota sebelumnya saat dia masih pre uni (studkol) sampai masuk TV masuk koran dan diminta foto bareng sama orang lokal layaknya dia seleb, dia bisa pamer kebudayaan dengan nari saman dan main angklung, namun di samping itu juga tidak sedikit kekurangan dan kesalahannya dalam menjalani kehidupannya di sini. Mengambil keputusan, menetapkan skala prioritas, memanaje waktu, uang, teman, saudara, dll memang bukan hal mudah, bahkan bagi kita orang orang yang sudah dewasa (kalo gak mau dibilang tua ya). Alhamdulillah bukan hal prinsip sih kesalahannya, hanya saja tetap membuatku dan pacarku pusing tujuh keliling mencari solusi atas masalahnya. Haha....itulah indahnya jadi orangtua. Mikiiirrrr terus.....biar awet muda. Atau awet mikir kali ya?

Kebetulan tadi pagi aku baca berita tentang anak Indonesia yang hebat dan mendapat beasiswa dari Oom Bill Gates. Aku bilang ke berlianku bahwa ga harus menjadi seperti anak itu kok untuk menjadi hebat bagi mama. Hehehe.....tahu dirilah dikit kalo kitanya biasa aja ya jangan nuntut anak jadi luar biasalah.  Anak hebat itu bagiku jika dia bisa memahami dirinya sendiri. Kalau tidak tahu ya tanya dan mencari tahu, jangan sok tahu. Jika salah ya introspeksi diri dan lalu memperbaiki dan jangan diulangi lagi kesalahannya. Tidak erlu sok paling benar yang justru akan menjadi makin salah karena tidak pernah mengakui kesalahan akan membuat kita melakukan kesalahan terus. Jika ada kekurangan ya diakui saja lalu mencari cara mengatasinya, apakah itu memanfaatkannya dengan mengoptimalkan menjadi sesuatu yang bermanfaat atau mengeliminasinya dengan mengoptimalkan kelebihan kita. Dst.....yang intinya menjadi hebat itu bukan harus hebat. Nah lo! Bingung ga siy??

Gitu temans.....terutama adek2ku yg japri, hidup itu indah karena ada masalah dan kesulitan, sehingga kita tahu dan bisa mencari solusi dan mensyukuri kemudahan. Kalau lurus aja lempeng aja tanpa masalah....maka itu adalah masalah. Lho???


Hahaha.......yuk kita bingung bersama...........

Senin, 17 Desember 2012

Kejutan.........

Kejutan! Adalah istilah yang dipakai jika kita ingin memberikan sesuatu baik itu berupa barang atau suatu kegiatan yang tidak disangka2 oleh si penerima kejutan. Biasanya kejutan merupakan sesuatu yang manis, menyenangkan, membanggakan, atau menggembirakan bagi si penerima sekaligus mengandung unsur mengejutkan. Makanya dinamakan kejutan.

Berlian2ku memang agak lebih romatis padaku dibanding ayahnya.. Mereka dulu sering memberikan kejutan2 kecil padaku jika aku berulangtahun, atau di hari spesial bagi wanita seperti hari ibu atau hari Kartini. Bahkan tidak jarang saat aku pulang dikejutkan dengan surat manis atau karya tangan mungil princessku. Kejutannya? Saat mereka masih balita biasanya berupa kertas kecil, dibentuk hati dengan guntingan belak belok tidak rata karena motorik mereka yang belum sempurna, lalu ada tulisan tangan dan/atau gambar yang mereka buat sendiri. Barang sederhana namun berasa mewah bagiku. Sungguh membahagiakan.

Princessku jika diajak rapat mendiskusikan kejutan untuk ulang tahunku, malah dia sering membocorkannya  dengan berbisik padaku; " Sssstttt.........Mama kan besok ulang tahun. Kami mau kasih kejutan." Hahahaha...........tentu saja itu merusak rencana-rencana mas2 dan ayahnya.

Setelah mereka agak besar, mereka akan menulis surat pendek yang mengatakan betapa mereka sangat mencintaiku. Hehehe...........surat cinta yang membuatku termehek-mehek, lebih parah dibanding efek dari surat cinta ayah mereka padaku.

Lalu setelah mereka semakin besar lagi, hikcs...........mereka sudah seperti ayah mereka yang tidak lagi romantis. Hanya saja berlian sulungku pernah bilang ke aku;

"Ma, kalau aku nanti sudah dewasa, punya penghasilan sendiri, mama aku kasih ATM dengan sumber dana rekeningku." waaaaa......melayang deh aku.

'Trus, mama boleh ambil berapa sayang?' tanyaku sekedar curious.

"Berapa aja Mama mau boleh ambil. Mama boleh pakai sesuka Mama. Aku nggak batasi kok Ma." O M G............so sweet...........

'Nggak takut Mama ambil banyak? Sampai habis?' hihihi............aku makin penasaran dan jahil.

"Mama..............aku tahu Mama itu gak kayak gitu. Pasti Mama hanya ambil seperlunya dan Mama ngerti kebutuhanku. Mama kan bukan pemboros atau tamak." oooh.................bijak sekali dikau wahai pangeran gantengku. Semanis itu prasangkamu ke aku?

Lalu sekarang, hampir setiap hari Princessku memberiku kejutan berupa lukisan karyanya dengan tulisan yang membuatku terbang ke langit ke tujuh. Berlianku yang sedang jauh mengirimiku sebuah lagu Thanks To You nya Richard Marx dan kata2 indah mengharukan di hari ulang tahunku yang membuatku sesenggukan karenanya.

Ee......ternyata tidak hanya sampai di situ. Keponakan cantikku, anak dari adikku yang juga merupakan salah satu bidadari kecilku pun ikut memberiku kejutan. Usianya baru sekitar 2 tahun. Suatu hari aku mampir ke rumahnya dan kebetulan ayahnya sedang di rumah. Karena dia pilot, maka hari Sabtu Minggu tidak jarang tetap dinas, terbang. Kloplah suamiku ngobrol ngalor ngidul kangen-kangenan dengan adiknya. Aku ikut menyimak sesekali menimpali.

"Budhe, adek punya kejutan buat Budhe." tiba2 si kecil cantikku itu menyela pembicaraan. Hehehe.....mungkin dia sebel karena tidak diperhatikan.

'Wow..........apa itu sayang?' tanyaku sadar, dan langsung aku curahkan seluruh perhatianku padanya.

"Sebentar ya.................." badan kecil buntel lucu berambut pendek aneh karena dia potong sendiri itu berlalu dan ngumpet ke belakang abinya, demikian dia memanggil ayahnya. Hmm.....aku yakin bahwa dia menyembunyikan sesuatu di belakang kursi abinya makanya dia menuju ke sana. Aku menunggunya sabar, harap-harap cemas ingin segera tahu apa kejutannya.

Lalu.................

"BAAAAA!!!!!" tiba-tiba bidadari kecil itu melompat ke hadapanku dan teriak kuat-kuat.

Rupanya dia benar2 mengejutkanku. Bukan memberiku 'kejutan' berupa benda apapun. Hahaha..........this is it, kejutan yang sebenarnya.



Selasa, 30 Oktober 2012

Berlianku, Kebanggaanku, Anti Korupsi....

Hmm....ini sebenarnya tulisanku tahun lalu ya......saat sedang anget2nya seleksi ketua KPK......

Pengumuman kelulusan SD tahun ini termasuk moment yang aku tunggu-tunggu. Hehehe..............soalnya berlianku termasuk peserta ujian SD kali ini. Hmm.......sebenarnya, seharusnya, hal ini tidak akan pernah meresahkanku seandainya dunia ini ideal, tidak ada kecurangan, tidak ada kong kalingkong, tidak ada genk-genk an, tidak ada jual beli soal & jawaban, dll yang mungkin saja terjadi. Bahkan bagiku jika anakku sampai tidak lulus pun tidak masalah, jika memang benar-benar kenyataannya anakku tidak mampu. Jadi aku tetap ada sedikit gundah, khawatir jika ada ketidak adilan yang merugikan berlianku akan membuat semangatnya terkikis. Resiko membesarkan anak di jaman materialistis.

Menyedihkan memang jika mendengar berbagai berita tentang bagaimana 'mendidik' anak-anak bangsa, generasi penerus, dengan didikan kecurangan, kerjasama yang tidak seharusnya dilakukan, apalagi dengan cara mengintimidasi anak agar melakukan hal buruk tersebut. Miris sekali mendengarnya, mengetahuinya, merasakannya, dan membayangkan akibatnya kepada bangsa ini, negara ini ke depannya.

Hampir bersamaan, juga sedang terjadi penyaringan calon ketua KPK, sebuah komisi yang dibentuk untuk memberantas korupsi di Indonesia. Entahlah, seberapa serius orang-orang ingin memberantas korupsi. Setahuku sih banyak orang yang hanya teriakannya saja yang keras, namun entah disadari atau tidak, disengaja atau tidak, mereka sebenarnya menumbuhsuburkan korupsi.........terutama jika itu menguntungkan diri mereka, keluarga, atau golongan dan kelompoknya. Lalu mereka akan merubah istilahnya bukan sebagai korupsi namun nama lain yang terkesan halal, boleh, atau cenderung sesuatu yang mulia, bahkan tidak jarang membawa-bawa ayat dalam suatu kitab suci segala untuk meyakinkannya. Padahal jika hal baik, tidak perlu digembar gemborkan dasar dan ayatnya pasti sudah akan menyejukkan nurani siapapun dari agama manapun.

Dalam ketidaknyamananku atas kondisi itu, aku tetap optimis dan tentu saja sangat bangga dengan berlianku. Sebenarnya sejak anak pertamaku dulu aku sudah mendengar dari angin lalu selentingan, ajakan untuk curang dalam ujian, dll yang tidak aku setujui apalagi aku lakukan. Tentu saja bagiku itu adalah suatu penghinaan intelektual dan kejujuran anakku. Buat apa aku melakukan hal bodoh seperti itu? Lalu apa gunanya selama ini aku berjuang mati-matian untuk menegakkan kebenaran, kejujuran, jika aku harus membiarkan pendidikan yang salah bagi berlianku, harta terbesarku, hal terpentingku?

Dan mengapakah aku tidak menerapkan ilmu auditorku tuk membuktikan segala kecurangan itu lalu memblow up nya seperti yang terjadi sekarang? Karena aku tahu itu hanya akan menjadi komoditas media, hegemoni sesaat, kehebohan gak penting, lalu akan hilang begitu saja dan praktik-praktik serupa tetap tumbuh subur bahkan makin menggila. Aku sudah merasakan akibatnya jika berbeda dengan masyarakat, komunitas, yang suka teriak anti korupsi padahal nyatanya mereka pendukung korupsi dan bahkan mungkin saja ahli korupsi.

Ya, aku hanya akan konsentrasi menyiapkan berlian-berlian bangsa ini untuk menjadi penyelamat negeri. Itu saja yang bisa aku lakukan sebagai kontribusi untuk bangsaku, negaraku, surga dunia milikNya yang dianugerahkan padaku, pada berlian2ku, pada bangsaku.

Kembali ke berlianku, kelulusannya, nilai bagusnya, rasanya sudah menjadi hal wajar dan seharusnya dia peroleh. Dia memang cerdas, mampu, dan berhak atas hal itu. Hal yang justru sangat membanggakanku adalah........ beberapa bulan sebelum ujian dia dipercaya oleh orangtua dari temannya untuk mententir, mengajar, memberikan les privat tanpa bayar tentu saja kepada anaknya, juga anak-anak lain agar mereka bisa menempuh ujian dengan baik dan berhasil. Alhamdulillah, temannya itu yang biasanya mendapatkan nilai tidak bagus kali ini lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tidak dengan cara memberi contekan lho!

Lalu saat aku tanyakan tentang berbagai berita heboh tentang seorang anak SD yang disuruh oleh gurunya memberi contekan ke teman-temannya itu, dengan diplomatis dia menjawab;

"Mama kan tahu, kalau aku disuruh curang kayak gitu ya gak mungkin aku mau. Itu kan tidak bener. Mama Papa tidak pernah ajari aku, cukup dengan contohi aku untuk tidak melakukan hal tidak bener, kan? Kalau mau belajar sama aku ok, tapi kalau mau nyontek aku ya no way! Gak bakalan ada yang maksa2 aku, jahat sama aku. Tenang Ma, aku aman. Mana ada yang berani sama mamaku?" gubraaaagg........

Masya Allah..............sejuk rasanya hatiku mendengar jawabannya, mengetahui sikapnya, yang mencerminkan anti korupsi yang sesungguhnya. Mulai sejak dini, saat masih kecil, dan dimulai dari diri sendiri. Hai para orang dewasa.......................... malu donk ah kalah ma anak kecil!!

Gak perlu teriak2 anti korupsi, gak perlu ada mata pelajaran atau mata kuliah anti korupsi, cukuplah saja dengan contoh nyata dari para orang dewasa sekitarnya..................JANGAN KORUPSI!!!!! Maka anak2, generasi muda, akan dengan sendirinya anti korupsi. Buang2 waktu n energi aja sih???? Gitu aza kok refot!

Berlianku................keep shining! Negara ini membutuhkan kilau terangmu.

Selasa, 16 Oktober 2012

Kisah Seorang Pemuda di Gerbong Kereta

Kisah inspiratif copas dari seorang teman,

Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya. Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya:

”Ayah, coba lihat, pohon-pohon itu… mereka berjalan menyusul kita”.

Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagian mendengar celoteh putranya itu.

Syahdan, di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakanitu. Mereka berdua merasa sangat risih. Kereta terus berlalu. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak:

“Ayah, lihat itu, itu awan kan…? lihat… mereka ikut berjalan bersama kita juga…”.

Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.

Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu:

“Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”

Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab:
“Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir. Tadi ia baru dioperasi, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”.

Pasangan suami itu pun terdiam seribu bahasa.

>>Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan melihat zahirnya saja. Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya anda akan tercengang. Maka kita perlu berfikir sebelum bicara..

# Inspirasi Islami

Sabtu, 25 Agustus 2012

'BOK'

Keluarga kami itu gado2, campur aduk dari seluruh penjuru nusantara, bahkan juga belahan bumi lain nun jauh di sana. Sehingga kami mengenal banyak bahasa meski belum tentu bisa dan mengerti. Apalagi aku! Blo'on deh. Namun anak-anak kok ya gampang banget beradaptasi. Mereka bisa main seru atau saling marah meski bahasa mereka berbeda. Memang sih, sedikit2 mereka saling mengerti dan bisa bahasa satu sama lain, namun jika sudah marah atau reflek, tentu bahasa asli/sehari2 merekalah yang keluar :-(||> give up .

Contohnya keponakanku yang sejak lahir dan tumbuh di negaranya paman Sam, dia bisa berbahasa Indonesia bahkan Jawa karena ayah ibunya asli Jawa, namun jika marah ya yang keluar dari mulutnya adalah English. Karena jika harus marah dengan bahasa lain, maka dia harus berpikir lama terlebih dulu. Itupun yang keluar adalah bahasa baku yang biasanya membuat kami menahan tawa karena sungguh lucu. Kemudian keponakan yang setengah Londo, maka jika marah atau reflek berkomentar maka bahasa Belandalah yang keluar. Juga yang lahir dan besar di negara Francophone, yang menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa sehari-harinya, maka dia akan ngomel menggunakan bahasa Perancis meski saat ngobrol dengan princessku dan mas2nya menggunakan bahasa Indonesia atau English >:P phbbbbt.

Tapi karena itu juga maka anak-anak di keluarga besar kami juga cenderung mudah berbahasa asing. Yang bahasa sehari2nya English bisa berbahasa Indonesia bahkan Jawa, yang berbahasa sehari2 Perancis bisa berbahasa Indonesia, English, dan Belanda, demikian juga yang berbahasa Indonesia setidaknya mengerti dan bisa berkomunikasi dengan saudara sepupunya yang berbahasa English, Perancis, maupun Belanda. Malah si cantik Princessku itu mengenal bebek pertama kali dalam bahasa Belanda, karena memang melihat bebek pertamakali di sungai belakang rumah di Holland sana. Ya ampun nak......masa lihat bebek teriaknya "eend.........eendje........." gubrag banget deh, bilang aja bebek, meri. Hahaha.................

Demikian juga setelah bertemu dengan sepupu mereka baik saat sepupunya berkunjung maupun saat kami yang ke rumah mereka, maka pasti ada oleh2 berupa kata-kata atau kalimat yang sering digunakan oleh sepupunya. Seperti lebaran kemarin, kami ngumpul di rumah kakak dan ketemu saudara2 yang dari Solo dan Cilacap. Kalau Bahasa Jawa Solo tidaklah terlalu aneh bagi berlian2ku karena akupun terkadang menggunakannya. Namun ada bahasa Cilacap yang sering digunakan sepupu mereka yang bagi berlian2ku terdengar aneh. Setiap mengucapkan sebuah kata, sering ponakan gantengku mengakhirinya dengan kata 'BOK' dengan nada mirip bahasa Banyumas. Lama2 berlian2ku penasaran dan menanyakannya ke tantenya, dimana adikku bukanlah orang asli Cilacap. Katanya artinya 'barangkali'. Benarkah? 
*nanya ke orang asli Cilacap*

Selasa, 03 Juli 2012

IPS, Kenapa Tidak?

Ada yang bingung dan malu anaknya milih jurusan IPS padahal anaknya pinter?

Sakjane aku punya pengalaman mirip. Ganteng keduaku juga milih IPS meski aku n ayahnya anak Fisika, masnya anak IPA. Dan dia tuh jago matematika sejak belum masuk SD, meski setelah kuingat2 n kuanalisa emang matematika dia itu matematika IPS. Ya ampun ternyata dia sejak TK sudah jago matematika IPS yg sempat bikin calon guru SD nya puyeng dengan argumen si ganteng kecilku dulu. Aku pernah cerita belum ya tentang hal tsb? Hahaha.....kumat deh aku. Kembali ke pilihan dia ke IPS, aku n ayahnya memang mempertanyakan, tapi bukannya tidak setuju. Hanya ingin memastikan saja apakah betul si gantengku yang sejak kecil ingin jadi pilot kek Oomnya itu mau milih IPS. Ternyata.............positiv! Dia mau ke IPS. Ya sudah, aku n ayahnya ikut saja.

Tapi......haha.....seperti biasa, aku gak mau segitu aja lalu selesai. Maklum, dia harus menghadapi masyarakat yang memandang anak IPS berarti gak sehebat dan sepinter anak IPA. Mana mungkin kubiarkan berlianku menghadapi teror sosial itu tanpa kubekali senjata dan tameng agar dia tetap percaya diri dengan pilihannya, bukan?

  1. Kami yakinkan dia bahwa pilihannya TEPAT. Hehe......pengkhianat ya kami? Masa anak IPA dukung anaknya masuk IPS? BoAm :| straight face! (ABG style)
  2. Kami kuatkan dia dengan memberi gambaran masa depan yang mungkin dia raih dalam profesinya sebagai anak IPS. Luar biasa banyak kehebatan yang bisa diraihnya. Banyak orang hebat dengan keilmuan sosial. Tidak sedikit orang yang merubah dunia dengan kelihaian mereka dalam ilmu sosial.
  3. Anak IPS yang memilih dan menekuninya dengan sungguh2 tentu akan jauh lebih hebat dari anak IPA yang memilihnya hanya karena menganggap IPA itu lebih keren. Yg mana itu enggak banget. Gaje gitu?!
  4. Kalo hanya ingin jadi pilot, kami yakinkan dia akan bisa belajar dan mengambil lisensi pilot meski dia anak IPS. Itu bisa nanti......gak harus jadi pilot tentara atau komersial. Gimana kalo pilot pesawat pribadimu sendiri? Begitu iming2 kami sekaligus memotivasi dia. Qeqeqeq.............8-> day dreaming inget donk si Princess kecil kami aja kalo mimpi gak tanggung2.
  5.  Hmm......tentu saja kami beri dia tips n trik yang harus dilakukannya sebagai anak IPS. Hallah......yg ini sotoy, suer! Tapi tetep aja kami lakukan sepenuh hati dan jiwa. Lha meski SMA jurusan Fisika, diterima di kampus ternama sesuai jurusan impian yg kental dg IPA, toh yg kami pilih STAN yg kuliahnya akuntansi yang berarti jurusan sosial kan? Jadi masih kompeten donk ya.........:P tongue:P tongue
Dan masih banyak lagi ocehan2 kami berdua yang semoga membuatnya PD, memotivasinya, dan gak membuatnya bosen. Jadi.................memilih IPS, kenapa tidak?

Jumat, 15 Juni 2012

Princess Dan Celana Pendeknya

Seringkali aku melihat dan mendengar bagaimana orangtua mendidik anak-anaknya dengan 'kesempurnaan'. Hmm......memang sangat wajar jika orangtua ingin anaknya menjadi baik, hebat, sempurna. Tapi ingat............para orangtua pun seharusnya sadar bahwa mereka sendiri tidak pernah sempurna dalam hal apapun juga tanpa kecuali. Jadi........wajar gak kalo minta anaknya harus sempurna?

Kalau aku, hehehe...... santai aja. Yang penting mereka tahu esensinya, bukan hanya simbol-simbolnya, juga bukan harus sempurna keduanya, karena pastiya sulit ya. Jika harus memilih maka aku akan mengedepankan esensinya saja. Haha..... dan aku maklum saja jika banyak orang yang tidak setuju denganku, dan semoga saja mereka juga maklum jika aku tidak setuju dengan pendapat mereka. Meski ya terserah merekalah mau maklum atau tidak.

Waktu anak pertama dan keduaku SD, jika ketemu gurunya akan ditanya; "Hafalannya sudah sampai mana?" maka setelah berlianku berlalu aku akan berbicara dari hati ke hati dengan gurunya itu dan menyarankan agar lain kali negurnya; "Mas, surat ini (sebut aja surat tertentu yang gurunya mau anakku hafal) sudah dilaksanakan belum?". Kenapa aku menyarankan itu? Karena aku tidak mau di kepala berlianku tertanam yang penting adalah HAFAL. Mauku, dia harus melaksanakan Al Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apakah hafalan tidak penting? Ya penting juga sih, bukankah jika seseorang melakukan sesuatu karena sebuah ayat maka berarti dia sudah memahami ayat tersebut? Masalah hafal, tentu akan lebih mudah mengingat ayatnya jika dia sudah memahami dan melaksanakannya. Dan.....mungkin berlian-berlianku memang bukanlah penghafal Al Qur'an (hanya sekitar 3juz saja hafalannya meski sudah SMP/A), tetapi insya Allah semoga mereka mengamalkannya. Alhamdulillah, meski jauh dariku dan ayahnya, berlianku tetep tidak ninggalin shalat, baca Qur'an, dan puasa bahkan termasuk yang sunnah.

Idealnya memang hafal banyak dan mengamalkannya. Tapi...........bukankah kita sendiri tidak sesempurna itu? Bahkan shalat yang paling tidak kita lakukan lima waktu dalam sehari saja belum tentu kita amalkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari kita, bukan? Ehem......itu aku sendiri kali ya?

Nah.....sekarang Princess cantikku pun demikian. Aku, kami, dalam hal ini termasuk mas-masnya yang tentu saja ikut dalam mendidik adiknya itu, tidak menuntutnya untuk melakukan semua hal secara sempurna. Misalnya shalat. Kami semua, aku, ayahnya, dan mas-masnya mengajak dia shalat dengan cara membuat dia suka terlebih dahulu. Sejak dia masih di perutku, kami semua selalu mengajaknya shalat bareng. Hahaha.....iya! Jika waktu shalat tiba, maka selain aku sendiri maka ayahnya akan mengelus perutku dan mengajak shalat ke Princess kami yang sedang mlungker di dalamnya. Dan.......hei....hei......hei.......semua mas-masnya pun begitu. Sebelum mereka melesat ke masjid, semua menyempatkan mencium adiknya yang masih di perutku dan mengingatkannya agar shalat bareng mama di rumah. Hehe.....kenapa 'melesat'? Karena mereka suka mepet! Berangkat setelah nyaris shalat mulai sehingga harus buru-buru, lari, tentu saja sambil belak belok dan saling cekakak cekikik becanda.

Setelah usia setahun (bisa jalan), maka seperti juga mas-masnya dulu, Princess juga dibawa ayahnya ke masjid. Dan setelah agak besar (sekitar 3 tahun), maka mas-masnya merayuku agar aku mengijinkan mereka membawa adik cantiknya shalat ke masjid meski ayahnya tidak ada. Dan itu sampai sekarang. Si cantik 5 tahunku itu sering diajak masnya untuk shalat di masjid, bahkan jika masnya libur dia akan diajak shalat Jum'at. Dia akan duduk manis kadang sambil rebahan di pangkuan masnya saat mendengarkan kotbah Jum'at sambil sesekali nyeletuk berkomentar atau cekikikan jika ada yang lucu. Masnya sangat menikmati momen2 begini. Ternyata jama'ah lain pun ikut senyum mendengar celotehan Princessku si jama'ah tercantik yang mengomentari isi kotbah. Dan saat ketemu aku, dia akan bercerita tentang kotbah itu. 

Princessku juga suka banget jika shalat subuh di masjid bersama ayahnya dan mas-masnya. Setiap malam sebelum tidur dia selalu berpesan; "Ma.....subuh bangunin adek ya." Hehehe......tapi aku gak pernah bangunin, karena jika tidak terlalu capek dia pasti akan bangun sendiri. Andai subuh masih terlelap, tandanya dia memang masih membutuhkan tidur sehingga tak satupun dari kami yang tega membangunkannya.

Hmm......jangan dikira si cantik ke masjid dengan memakai mukena komplit ya......karena dia berpakaian sesukanya, apa yang dia rasa nyaman saat itu. Terkadang komplit bahkan membawa tasbih dan tas sajadahnya segala, layaknya ibu-ibu pengajian, kalo kata masnya. Kadang hanya memakai baju biasa dan jilbab pendek. Malah pernah dia tidak mengenakan jilbab sama sekali dengan rambut kriwilnya itu. Iiiiih......gak malu cantik??

Suatu pagi........dia baru terbangun saat ayahnya sudah siap berangkat subuh ke masjid. Paniklah dia mau ikut. Lalu secepat kilat dia wudlu dan menyambar jilbab sedapatnya sebelum minta gandeng ayahnya. Atau.....entahlah, mungkin juga di jalan minta gendong karena masih ngantuk. Sepulang mereka dari masjid......aku baru tahu ternyata dia hanya mengenakan T-shirt, jilbab, dan........celana pendek!

 "Assalamu'alaikum........" teriakan nyaring lucunya langsung terdengar begitu dia msuk rumah. Mas-masnya senyum-senyum maklum. Malah sebelum aku komplain mas-masnya sudah bilang; "Ntar juga kalo dia sudah besar ngerti sendiri Ma, kayak kami. Kan yang dia lihat Mama kalau keluar rumah pake jilbab, ya gak mungkinlah adek kalo besar nanti keluar rumah pake celana pendek lucu gitu. Apalagi shalat di masjid. Kami aja setelah gede kalo keluar rumah pake celana panjang kayak Papa. Gak usah Mama Papa kasih tahu kan? Lagian dia juga belum wajib!" Duuuuh.....mas-masnya melarangku menegur adik cantiknya. Mereka lebih memilih agar adiknya tetep nyaman dan suka ke masjid daripada meributkan celana pendeknya yang mereka yakin bukanlah sesuatu yang penting untuk saat ini.

Wow!!! Bijak kali berlian-berlianku ituuu.........................pendidikan memang keteladanan, bukan instruksi dan perintah. 

Tuiiink..........bingun, harus malu atau bangga ya?

Kamis, 14 Juni 2012

Susu Formula Tak Pernah Mampu Menyamai ASI


JAKARTA, KOMPAS.com - Masih banyak ibu menyusui yang beranggapan bahwa susu formula lebih baik ketimbang air susu ibu (ASI). Padahal jika dilihat dari kandungan gizi yang ada di dalamnya, ASI jauh lebih baik ketimbang susu formula dan lebih aman dikonsumsi. 

Hesti Kristina P. Tobing, Wakil Ketua Ikatan konselor Menyusui Indonesia (IKMI), mengatakan, yang perlu diketahui oleh para ibu menyusui adalah bahwa tidak ada satu pun susu formula yang bebas dari kuman. Bahkan menurut WHO dan FDA semua susu formula tidak steril dan berisiko terkena bakteri termasuk sakazakii. 

"Yang ada cuma ambang batas kumannya. Ambang batasnya masih bisa diminum," ujarnya, saat acara konferensi pers membahas soal PP ASI Eksklusif, Rabu, (6/6/2012), di Jakarta.

Ada 4 (empat) standar emas pemberian nutrisi pada anak, yakni Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sejak lahir, pemberian ASI Eksklusif usia 0-6 bulan, pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) buatan rumah mulai dari usia 6-12 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan terus sampai usia 2 tahun atau lebih. Keempat pilar ini merupakan rekomendasi dunia, baik itu WHO atau UNICEF.

Hesti mengatakan, ASI mengandung beberapa zat penting yang tidak dimiliki oleh susu formula, sebut saja seperti antibodi dan growth factor.

"Hampir semua susu formula selalu menambahkan komposisi pendukung seperti DHA dan AHA, yang sebenarnya sudah ada di ASI untuk kecerdasan otak. Itu membuktikan bahwa sebenarnya susu formula tidak akan pernah mampu menyamai ASI," terangnya.

Suatu rekomendasi menyebutkan, anak usia 0-6 bulan hanya perlu diberikan ASI ekslusif karena ASI sudah memenuhi 100 persen kebutuhan bayi. Memasuki usia 6 bulan sampai 1 tahun tahun, ASI masih tetap diperlukan karena memenuhi 60-70 persen kebutuhan bayi. Sedangkan pada usia 1-2 tahun ASI masih memenuhi 30 persen kebutuhan bayi.

"Payung besar dalam perlindungan pemberian ASI sebenarnya ada di tangan pemerintah, karena pemerintah yang mengeluarkan kebijakan dan perlindungan," ucapnya. Susu formula, lanjut Hesti, memang menjadi bisnis yang luar biasa. Ia mengungkapkan bahwa produsen susu di dunia saat ini tengah mengincar China dan Indonesia sebagai target pemasaran, karena pertumbuhan penduduknya yang paling besar.

Dulu sebenarnya Indonesia sudah menyepakati tentang kode internasional pemasaran susu formula. Indonesia salah satu negara yang ikut menandatangani bahwa sebenarnya sampai usia dua tahun tidak boleh ada iklan produk susu formula. "Tapi sayangnya penerapan di Indonesia hanya sampai satu tahun dan itu pun masih dilanggar," tutupnya.
 *****

Ya iyalah......mana mungkin coba, manusia mampu menyaingi Allah? ASI itu diciptakan khusus buat si bayi itu saja, disiapkan sejak mereka masih di kandungan, dan dijaga ketat kualitasnya olehNya. Hhhh...... sebenarnya ini gak perlu dibahas andai tidak ada pembodohan masyarakat melalui iklan2 menyesatkan.

Anehnya.......orang2 yg ngaku pinter, intelek, masih aja ketipu dan percaya sama iklan itu. O M G........

Kamis, 24 Mei 2012

Seat Bealt Buat Apa......???

Sejak bisa nyopir (kuliah), aku selalu mengenakan seat belt jika memang mobil yang aku kendarai menyediakannya. Jadi bukan karena aturan atau sanksi maka lantas aku takut dan memakainya. Karena aku merasa lebih aman jika mengenakannya. Logikanya, sebuah alat dilekatkan pada sebuah benda tentu ada gunanya bukan? Aku juga gak suka melalui jalur busway, melanggar lampu lalin, dsb. Gak nyaman deh rasanya.

Demikian juga sampah, aku selalu berusaha membuang di tempat yang seharusnya meski ada aturan atau tidak. Karena aku suka bersih. Hiii......sebel gak sih lihat yang jorok? Jadi, meski di sebuah tempat yang sudah bertebaran sampah, jika itu bukan tempat sampah ya aku pegang dulu sampahku sampai ketemu tempat sampah.

Hehehe......ternyata itu ditiru berlian-berlianku. Mereka akan menggenggam bungkus permen mereka sampai menemui tempat sampah untuk membuangnya. Waktu mereka masih batita pernah kejadian, mereka menegur seorang bapak-bapak yang membuang sampah sembarangan.

"Oom......kalau buang sampah itu di tempatnya." gitu kata ganteng dua tahunku sambil mendatanginya. Dan dia memastikan bapak itu mengambil sampahnya serta dibuang ke tempatnya. 

Hehehe........aku gak ngajari lho. Dia menegakkan kebenaran meski hanya membuang sampah. Hebat......hebat......hebat.......batinku. Dan tentu saja aku memperhatikan, jaga-jaga kalau orang yang ditegur menyusahkan berlianku ya tak gibeng. Qeqeqe........Alhamdulillah rata-rata mereka nurut dan merasa malu. Gimana ya? Bisa jadi mereka waktu kecil tidak 'melihat' dan mengerti pentingnya kebersihan. Aku sering lihat orangtua yang keluar dari toko bersama anak-anak kecilnya, lalu membuka kemasan jajanan mereka, dan membuangnya sembarangan. Ya........anak-anak itu tentu melakukannya dengan enteng juga. Piye jal?

Eh....ternyata sekarang malah mengenakan seat belt wajib ya? Ya sudah malah bagus. Meski sebenarnya menanamkan hakikat manfaat dan tujuannya jauh lebih penting dibanding sebuah aturan sehingga orang melakukan bukan karena wajib atau takut sanksi, namun memang kesadaran diri. Kek aku.......wink.......wink.......

Haha....
Pastilah berlian-berlianku juga mengikutiku, meniruku. Mengenakan sabuk pengaman jika berkendara. Tapi hai.....hai.......aku hanya menggunakannya jika di depan. Kalau menumpang di belakang, aku tidak pernah memakai kecuali sedang di negara yang mewajibkan itu. *blush.....* malu ih........gimana coba kalau berlian-berlian indahNya itu niru kebandelanku ini? Ya sudah deh karena kebetulan di Indonesia juga aturannya baru seperti itu. Lagian aku tidak punya integritas lagi suruh mereka jika aku sendiri tidak melakukannya, bukan?

Tapi......Princessku kok tidak ya? Meski duduk di belakang, dia tetap akan mencari seat belt yang akan segera dikenakannya jika ketemu. Bahkan di mobil van tua kami yang cukup nyaman buat dia mondar mandir, dia tetap memilih 'terikat' lucu di tempat duduknya.

Dia juga paling cerewet jika aku atau ayahnya nyopir dan tergoda melanggar aturan. Bahkan dia akan tegur ayahnya jika membentak pengendara lain yang seenaknya berkendara. Saat aku tanya kenapa, dia jawab; "Adek gak suka kalau Papa bicara tidak baik. Nanti Papa dosa Ma." Ooo......rupanya dia bukan tidak suka orang itu diteriaki ayahnya namun dia lebih menyayangi ayahnya dan takut jika ayahnya melakukan hal jelek.

Uhm......sekarang kan perut ramping cantikku sudah agak berkembang dikit. Hehehe.....maklumlah sudah empat berlian indah meringkuk nyaman di sana. Meski tetep indah dan cantik serta menggemaskan kata berlian-berlianku dan ayahnya, namun kadang aku risih. Kalau sudah gitu, maka setelah memasuki gerbang kompleks segera kulepas seat beltku. Hhhhhh.......legaaaaa...............

"Mama, emang kita sudah sampai?" tiba-tiba Princess cantikku yang sedari tadi hanya duduk manis 'mengikatkan diri' sambil membaca tulisan apapun yang ditemui di jalan bertanya.

"Belum sayang, bentar lagi. Kenapa? Sudah mau bobok ya?" jawabku mencoba memahaminya.

"Trus kenapa Mama lepas seat beltnya? Kan seat belt itu untuk berkendara, bukan untuk di jalan raya. Jadi kalau belum sampai, belum berhenti, ya jangan dilepas."

Guuuuubbbbbbrrrrrraaaaagggggg............................

*buru-buru make lagi*