Kamis, 12 Januari 2012

'V' dan 'F' Apa Bedanya??

Princess cantikku sudah 5 tahun sekarang. Dia baru aja mulai bisa membaca sekaligus menulis. Hehehe.......bravo!! Gitu biasanya sepupunya akan teriak jika memberi selamat. Dibanding mas-masnya dulu, dia memang lebih telat bisa baca tulisnya. Tapi ya gakpapa bagiku. Aku tidak lalu mengeleskannya agar segera bisa membaca. Ngirit? Hehehe.....iya juga sih. Tapi aku memang tidak merasa penting banget menyegerakan ketrampilan ini ke berlian2ku. Yang menurutku justru penting banget sih......biasa shalat, makanya aku membiasakannya sejak mereka di kandunganku, lalu diteruskan semasa mereka bayi aku selalu bilang dulu saat mau shalat dan shalat di dekat mereka, kemudian setelah bisa berjalan (1 th) maka papanya mengajaknya shalat ke masjid dengan dipakaikan popok anti bocor. Dan........trataaaa.......mereka rajin shalat bahkan ke masjid meski tanpa papanya dan jika hanya ada 1-2 shaf, jama'ahnya maka mereka ada di barisan itu. Hahaha.....bahkan jika mas2nya libur, Princessku tetap ikut shalat Jjama'ah ke masjid  dan tentu saja menjadi satu2nya jama'ah cantik di sana.

Setelah shalat, maka hal yang berkaitan dengan sikap diri menjadi keutamaan bagiku untuk dipahami berlian2ku. Santun, hormat, menghargai orang lain, memahami orang lain meski berbeda, mengerjakan berbagai kebutuhan sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saling tolong, dll menurutku sangat penting ditanamkan sejak kecil. Sedangkan kemampuan akademis aku yakin akan gampang sekali mereka kuasai jika karakter mereka sudah bagus. Bahasa, yang lebih aku tekankan adalah bagaimana seharusnya 'berbahasa' dan bukannya materi bahasanya itu sendiri. Ehem.........bisa jadi juga karena mamanya gak pinter ngajar materi bahasa ya? Ahahahahay........malu deh. Iya, aku kurang setuju jika anak diajarkan bahasa asing sementara bahasa sendiri dia belum 'paham'. Tidak jarang aku bertemu anak yang cas cis cus berbahasa Inggris dan menolak berbahasa Indonesia apalagi berbahasa daerah. Padahal dia lahir dan tumbuh di Indonesia sebagai anak Indonesia. *sedih*

Nah kembali ke Princessku, sekarang ini dia sudah bisa membaca dan menulis meski masih belum lihai.  Kadang terbalik. Dia mau cerita ke masnya kalau dia jadi MAYORET, eh......malah nulis AMJORET. Setiap jalan sama aku, maka dia akan membaca apapun tulisan yang dia temui di jalan sedapatnya. Jika melihat laptopku online dan ada kode kuning di YM masnya yang menandakan masnya online, maka dia akan membuka chatbox sendiri dan.......chating sama masnya. Idiiiih......sok banget deh dia. Aku berpesan agar masnya chating dengan kata-kata sederhana dan jangan disingkat agar adiknya gampang membaca dan membalasnya. Tapi.......tentu saja smiley iseng sering dia gunakan untuk masnya sehingga masnya gemes banget ingin segera bisa menciumnya langsung.

Nah, karena namanya menggunakan huruf awal 'V', dia bertanya ke aku; "Mama.....kenapa harus ada huruf 'F' dan 'V'? Kan kalo dipake bunyinya sama. Fa = Va."

"Dalam bahasa Indonesia memang hampir sama, tapi dalam bahasa Inggris beda, cantik.
'Fan' dibaca beda dengan 'Van.' Dan nama adik itu juga berbeda artinya jika menggunakan huruf V atau F."

"Berarti cuma di bahasa Inggris ya, bahasa lain gimana Ma, harusnya bahasa Indonesia gak usah ada dua2nya ya Ma? Hayo....mama pilih manna?"

Sdh beberapa kali dia namain di lukisannya (dia suka nglukis, coretan; red) dengan 'huruf V' atau 'F' untuk namanya. Kan sama aja bunyinya Ma. Gitu argumen dia. Hahaha......meski sudah aku bilang kalau artinya berbeda, karena memang bagus semua sih artinya jadi dia cuek aja. Tetap menggunakan kedua huruf itu bergantian sesukanya.

Duuuh........kirain cuma abang2nya dulu waktu kecilnya yg suka ngasih jebakan betmen gini. It's happened again. Teman2 ada jawaban lain gak biar dia lebih puas dg jawaban mamanya (yg nyari contekan ke mana2).
 

Selasa, 03 Januari 2012

Tanggal Berapa Ma?

Princess kecilku suka melukis, menari, juga berlenggang lenggok bagaikan peragawati. Sejak usia tiga tahun dia sudah menjuarai sebuah peragaan busana meski hanya kelas kampung, unjuk kebolehan menari pendet di ajungan Bali Taman Mini Indonesia Indah, dan meski hanya juara harapan dia juga menyabet piala saat menarikan sebuah tarian Betawi di Taman Impian Jaya Ancol.


Melukis? Hampir setiap hari aku mendapatkan hadiah sebuah lukisan (coretan; red) darinya yang disertai tulisan:  Love (gambar hati)  Mama. Dia akan asyik melukis di sebelah papanya jika sedang libur. Mojok berduaan mesra dalam kebisuan. Hanya tangan mereka menari-nari dengan kuas dan warna-warni cat minyak di kanvas atau pensil warna dan crayon atau cat air di kertas. Mereka melukis dengan berbagai gaya, termasuk tengkurep di lantai.


Dia itu perangkoku, penguntitku, yang hampir selalu menempel dan mengikutiku ke manapun aku bergerak. Bahkan terkadang aku khawatir dia akan tertabrak jika aku tiba-tiba berbalik saat sedang berjalan karena teringat akan sesuatu yang harus aku lakukan. Maklum, kekurang harmonisan multitaskingku tidak jarang membuatku reflek berubah arah saat sedang beraktifitas.

Pernah aku heran kenapa di belakangku sepi, tidak ada yang membuntuti, tidak ada celoteh heboh yang menanyakan ini itu atau berargumen begini begitu. Aku mencarinya ke mana-mana seputaran rumah, melongok kamar-kamar, termasuk kamar (kandang) si ayam-ayam di depan rumah, namun makhluk cantik mungil berambut kriwil itu tidak aku temukan. Dalam sedikit kepanikan aku memanggil-manggilnya, namun juga tidak ada jawaban. Kembali aku cermati setiap ruangan dengan perasaan gak karuan namun berusaha tenang.

Eng.............ing................eng.................ternyata dia sedang sibuk mengaduk-aduk campuran air dan cat air berbagai warna sehingga warna yang terbentuk nyaris hitam. "Mama kenapa sih berisik? Adek kan lagi melukis, jangan diganggu donk." Hallah............................kalem pula dia menegurku. Sejak itu aku akan segera memeriksa ruang tempat dia dan papanya biasa 'bertapa' jika Princess tidak kudapati di belakangku menguntitku.

Tadi pagi-pagi sekali dia sudah asyik di ruang favoritnya setelah menguntit di belakangku. Lalu dia keluar sebentar untuk bertanya; "Ma, sekarang tanggal berapa?"

"Tanggal 3. Kenapa sayangku?" bukannya menjawab pertanyaanku dia malah ngibrit ke ruangan itu lagi lalu kembali dengan memperlihatkan sebuah lukisannya yang masih basah. Di lukisannya bagian bawah ada seperti tandatangan dan angka-angka seperti jika papanya atau mas-masnya melukis. Namun yang dia tulis setelah tandatangan adalah angka 3/5/4. Apa maksudnya ya? Kalau papa dan mas-masnya tentu akan menandatangani disertai tanggal bulan dan tahun pembuatan. Kalau ini??? Aku tidak mau menghakimi atau mengkritik dia sebelum aku tahu maksudnya.

"Bagusnya.............ngomong2 itu angka apa cinta?" tanyaku ingin tahu. Curious banget.

"Oooo.....itu. Yang ini kan nama adek, tandatangan adek. Nah yang ini tanggal hari ini (3), lalu umur adek (5), lalu kelas adek (4, dia selalu ngaku sudah kelas 4). Mama tahu kan setiap ketemu orang pasti pada tanya adek namanya siapa, sekarang umur berapa dan kelasnya berapa. Nah, biar pas mereka lihat lukisan ini tahu, kalo yang nglukis adek, dilukis tanggal 3, trus adek itu sekarang umurnya 5 dan sekarang sudah kelas 4. Gitu ma...." jawabnya menjelaskan.

?????????????????






Kamis, 29 Desember 2011

Terima Rapot

Sebelum libur Natal, hampir semua sekolah membagi rapot. Demikian juga sekolah berlian-berlianku. Ahay............bagaimanakah hasilnya? Baguskah nilai-nilai mereka? Ranking berapakah mereka? Itu pertanyaan klasik yang rutin ditanyakan orang kepadaku atau kepada anak2ku itu sejak dulu. Guru yang sudah tahu bagaimana aku maka mereka tidak akan kaget dengan reaksiku jika mereka menyampaikan 'jelek'nya nilai di rapot berlianku. Tapi yang baru tahu? Pada tepuk jidat.

"Ibu, anak ibu nilainya sangat kurang. Hampir paling rendah di sekolah ini." demikian laporan seorang guru berlianku tahun lalu karena hasil TO pertama anakku jeblog!

"Alhamdulillah Ibu, terima kasih. Insya Allah akan diperbaiki. Toh ini baru TO pertama. Mungkin dia masih adaptasi saja. Maklum tempat baru, teman baru, suasana baru." jawabku kalem tanpa kekhawatiran sama sekali.

"Ibu ini bagaimana sih? Nilai anaknya jelek kok malah Alhamdulillah." gurunya sedikit emosi melihat ketenanganku.

"Ya Alhamdulillah Pak, berarti dia bisa belajar dari situ, karena jelek ya jadi tidak bisa sombong, mengerti kekurangannya. Nanti juga baik kalau dia latihan."

"Bu, Ibu sadar nggak sih kalau ini sudah hampir ujian akhir? Apa Ibu tidak takut anaknya tidak lulus?"

"Iya Pak, Bu, justru karena saya tahu ini 'hampir' ujian akhir maka saya tenang. Kan masih ada kesempatan. Masih hampir. Bapak Ibu tenang saja, saya akan bantu anak saya latihan soal. Insya Allah saya sudah tahu tipe soalnya dari latihan (TO) kemarin." aku masih nyebelin.

Bla....bla......banyak deh nasihatnya ke aku.

Ya sudah. Aku latihan soal bersama berlian gantengku si peraih nilai 1 (terendah) di TO pertamanya. Aku sama sekali tidak marah padanya. Aku tahu potensinya, aku tahu permasalahannya. Kami cukup latihan sehari sejam saja. Latihannya juga santai. Aku berikan cara menjawab soal dengan mudah, trik-trik jika lupa rumus, bahkan jika sama sekali tidak tahu jawabannya. Karena aku yakin dia mengerti hanya tidak biasa berlatih soal. Dia hanya belajar materi, jarang membahas soal, n gak bimbel yg biasanya isinya latihan soal. Mamanya bisa tembus ujian masuk STAN mengalahkan ribuan pesaing hebat, masa sih anaknya gak bisa ngerjain soal? *kumat narcistnya*.

Dan.....................Alhamdulillahirrabil'alamiin............nilai UN dia not bad at all. Yah, rata2nya 9. Denger2 kata rumput yg bergoyang sih tertinggi. Ehemmm......

Lalu setiap terima rapot? Aku juga gak terlalu peduli dg nilai, ranking, tapi aku malah bertanya bagaimana sikap anakku di sekolah, bagaimana shalatnya, dsb. Ya kalo di rumah aku tahu gimana. Di sekolah? Aku kan gak mbuntuti mereka terus.

Pernah berlian gantengku nangis sedih gara2 ada guru yang ketemu dia mengatakan;"O...ini ya anak dari ibu yg gak peduli pendidikan anaknya."

OMG.......aku tanya; "Menurut sayang mama bagaimana? Apakah mama gak peduli pendidikan seperti kata guru itu?"

Sambil berlinang airmata dia jawab; "Menurutku mama itu orang yang paling peduli dan paham pendidikan. Jangankan aku anaknya, anak orang lain aja mama peduliin."

"Ya sudah, bagi mama pendapat anak mama jauh lebih penting dibanding pendapat guru manapun. Gakpapa kok mama dibilang seperti itu oleh orang lain. Kalo anak mama yg bilang begitu, baru mama peduli dan introspeksi diri. Jangan sedih karena hal itu ya ganteng." aku memeluknya haru dan bangga..............sedikit GeEr. Hehehe........................


Terima rapot kemarin? Ahay............semua berlianku nilainya klipuk! Parah......sangat di luar (jauh lebih rendah dari) kemampuannya. Sampai rumah aku perlihatkan kepada mereka.

"Bagaimana menurut mas?" aku tanya satu persatu supaya mereka tidak malu dan turun integritasnya di depan saudaranya. Haduh.....sok amat!

"Aku nyeseeeellll sekali. Ini cuma gara-gara aku gak ikuti kata mama." kata yg besar.
"Itu karena aku gak mau latihan soal dan belajar sama mama." kata si kecil ganteng. "Masih bisa ngejar nggak ya ma? Aku mau beasiswa MOE kayak mas dulu."

"Ok, nilai rapot mau atau tidak, suka atau tidak akan tercetak selamanya di situ. Nikmati aja ya.........." kataku.

"Mamaaa.....................jangan gitu donk, aku makin nyeseeeeeeellllllllllllllllll........................"

Hahaha...........emang itu tujuanku. Semoga karena nyesel maka semester depan mereka memperbaiki kesalahan mereka. Bukan supaya nilainya bagus, tetapi agar mereka tidak lalai dan beribadah lebih baik. Salah satu ibadah mereka adalah mensyukuri anugerah Allah, otak cerdas mereka dengan mengoptimalkan manfaatnya.

Apakah lalu selama liburan mereka belajar? Ya tentu saja...................TIDAK!!

Sabtu, 24 Desember 2011

Hari Ini, Sekian Tahun Lalu

24 Desember adalah hari ulang tahun ibuku, sekaligus hari kembalinya beliau ke haribaan Illahi Robi, dzat yang sangat mengasihinya.

Hari ini, saat ini, aku hanya mampu menulis diantara deraian airmataku. Aku ingat ibuku almarhumah. Aku kangen, aku rindu, tapi aku tidak lagi bisa menemuinya, memeluknya, mohon ampunan atas kenakalanku, mbangkangku, ngeyelku, nyebelinya aku, keras kepalanya aku. Tujuhpuluh tahun usianya kala beliau pulang, sudah 33 tahun aku bersamanya, namun hanya beberapa kali aku mengingat ulangtahunnya, memberinya sebentuk hadiah tidak berharga. Andai waktu bisa kuulang, ingin aku kembali ke masa itu.

Ibu, aku selalu teringat bagaimana ibu bangun sebelum subuh lalu membangunkanku karena aku ingin meneliti garengpung, binatang yang selalu ribut bersuara di pagi buta dan menjelang senja. Suara yang membuatku sebel dan marah, sehingga akupun menyelidikinya. Usiaku mungkin belum sepuluh tahun.

Ibuku yang heran mengapa aku tidak percaya begitu saja saat beliau mengajarriku membasuh bekas jilatan anjing pada kakiku dengan tujuh kali guyuran air dan salah satunya harus berpasir atau berdebu. Kembali aku ngeyel untuk merayu agar guru lab ku mengijinkanku meneliti mengapakah harus begitu.

Lalu bagaimana ibu marah namun tetap merawat dengan sabar melihat kulitku menjadi hitam legam terbakar matahari karena aku mencari ilalang liar di sawah jauh dari rumah di saat panas terik. Aku ingin tahu apakah tanaman itu tumbuh tanpa ada maksud sama sekali? Bisakah itu dibuat jelly?

Hallah............ibu, maafkan aku karena kesabaranmu mengikuti keingintahuanku tidak aku balas dengan membuatmu bangga dengan mengikuti segala keinginanmu.

24 Desember di masa kecilku adalah salah satu hari yang menyenangkanku. Aku, kakak-kakak dan adikku selalu menyambut hari raya agama Nasrani, Natal. Kami bersama sepupu yang beragama Nasrani akan bergembira ria membuat kue-kue, menunggu baju baru atau mainan dari Oom dan tanteku yang beragama Nasrani, juga bermain organ dengan lagu malam kudusnya, dan memasang lampu-lampu di pohon natal di rumah mereka. Kami cekikak cekikik bersama tanpa peduli itu hari raya agama siapa. Demikian juga jika hari raya Idul Fitri, kami bergembira bersama, membuat kue, menunggu baju baru, makan bersama, keliling bersama, memenuhi kantong kami dengan uang dan kue-kue hasil jarahan dari kerabat yang kami kunjungi. Aku juga teringat bagaimana kami bersukaria menyambut kepulangan Oomku yang selesai menempuh masternya di negeri paman Sam membawa oleh2 video rekaman suasana natal di sana.

24 Desember juga hari dimana aku mengalami kesedihan luar biasa karena kepulangan ibuku tercinta ke haribaanNya. Lalu disusul bapak yang tidak betah jika harus lama-lama mengarungi dunia ini tanpa cinta sejatinya, tanpa bidadarinya, tanpa ibuku. Bapak segera menyusul ibu, mengembuskan nafas terakhirnya di tempat istimewa pilihanNya.

Hari ini, saat ini, silih berganti kesedihan dan kenangan indah berseliweran di benakku. Diantara derai airmataku. Kangen rasanya dengan mereka berdua, dengan masa kecilku, dengan segala kenangan indahku. Aku hanya mampu menghirup kerinduan yang menyesakkan dadaku......

Selamat merayakan hari yang penuh kedamaian, hari Natal bagi teman-teman dan saudara-saudaraku yang merayakannya.

Minggu, 11 Desember 2011

Idealisme PNS Muda????

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda ~ Tan Malaka

Idealisme! Apa sih idealisme itu? Entahlah.... yang aku tahu, aku hanya akan hidup sesuai suara hati nuraniku. Apapun yang diyakini oleh lingkunganku, yang biasa terjadi, yang disukai banyak orang, jika nuraniku mengatakan tidak, maka akan kuhindari sebisaku apapun resikonya. Aku gak tahu apakah itu termasuk idealismeku, karena itu aku lakukan hingga kini aku tularkan ke berlian2ku. Jika yang pernah bersentuhan denganku di birokrasi tentu tahu maksudku.

Baru-baru ini sedang hangat-hangatnya berita tentang PNS muda dengan rekening gendutnya. Lalu banyak spekulasi, pendapat, pernyataan, yang menurutku sih tanpa dasar yang jelas. Hahaha......ini just my opinion, murni, dariku yang mungkin saja sangat kurang ilmu dan pengetahuannya, dan yang pasti tanpa dasar riset yang bisa dipertanggungjawabkan. Maklum, gak punya lembaga riset bonafide. Eiiit.......kok malah ke mana-mana ya? Gini nih pernyataan orang-orang itu:

"Dulu, saat masih mahasiswa mereka idealis. Lalu mereka masuk sebagai PNS terkontaminasi oleh yang senior sehingga tergoda untuk korupsi sehingga masih muda sudah gendut rekeningnya."

Yakin Pak, Bu, dengan pernyataannya itu? Apa dasarnya pernyataan itu ya? Ehem...........pernyataan yang aneh. Kok aneh? Ya iyalah aneh. Yang membuat pernyataan ini apakah seorang PNS? Idealis? PNS yang tadinya idealis? Atau wartawan yang sama sekali belum pernah mengalami menjadi PNS baik yang idealis maupun tidak? Karena kalau dasarnya dia idealis, setidaknya akan sulit membuatnya terkontaminasi mengingat penggajian PNS sekarang bagus. Kalaupun terkontaminasi tentunya setelah lama dan bukan saat masih muda rekeningnya menjadi 'gendut'.

Setahuku sih, kebanyakan masyarakat kita itu memang punya kecenderungan suka kolusi, korupsi, dan nepotisme alias KKN jika ada kesempatan. Huahaha........................jangan esmosi ya. Sekali lagi itu hanya berdasar pengamatan pribadi tanpa dasar sama sekali.

Contoh keciiiillll aja. Aku dengar bisik-bisik angin lalu, masuk sekolah yang sudah komputerisasi aja masih diakali dengan cara masuk aja dulu ke sekolah lain, lalu semester depan masuk ke sekolah dimaksud, tentu saja dengan bla...bla...bla..... antara guru (kepala sekolah) dan orangtua. Lalu seperti yang dilansir berbagai media yang baru lalu, seorang anak 'disuruh' oleh gurunya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya, agar sekolah tersebut mengantongi kelulusan besar dengan nilai bagus atas seluruh muridnya. Apakah hanya sekolah tersebut yang melakukan praktik-praktik ini? Jika mereka masih punya nurani, tentu akan malu dan segera membenahi diri.

Lalu, di jalanan begitu banyak anak 'kecil' mengendarai motor, bahkan saat usianya belum lagi cukup. SIM? Ada yang punya, ada yang tidak. Yang punya? Kebanyakan 'nembak'! Dan yang menembakkan atau ngajari nembak adalah orangtuanya. Ehem................meski kecil, tetep suap Bu, Pak, dan itu yang anda2 teriakin KORUPSI!! Saat orang lain yang melakukan, dalam jumlah besar, dan bukan anda2 yang terlibat di sana.

Saat mencari pekerjaan, Bapak Ibu yang terhormat yang paling mulia perbuatannya, kayaknya tidak sedikit dari Bapak Ibu yth yang 'memperlancar', bukan? Apalagi yang ingin memasukkan anaknya menjadi PNS. Ahaayyy.............

Dan masih banyak contoh lain deh kayaknya.....

Jadi??? Apakah mereka terkontaminasi atau memang sudah dididik sejak kecil? Wallahu 'alam bisawwab!!!

Rabu, 30 November 2011

Emang Punya Mobil??

Hedonism, konsumerisme, matrek, atau apa ya jaman ini?

Kali ini aku ingin cerita tentang pengalamanku sendiri. Aku terbiasa naik sepeda mini, kendaraan dinas pribadiku jika hanya untuk seputaran komplek rumahku. Bukan sepeda keren, sepeda mahal, atau sepeda lipat yang lagi tren sekarang, tapi sepeda mini. Hahaha..........Seru! Sambil menyelesaikan urusan aku bisa berolah raga dan bertegur sapa kiri kanan. Satpam, tukang ojek, tukang sayur, tukang ayam, semua pasti akan tersenyum riang menyapaku jika berpapasan. Kadang pulangnya aku membawa sedikit lebih kue untuk sekedar snack pagi buat satpam dan tukang ojek yang ada di pos dekat rumah..

"Pagi Bu Haji." begitu mereka menyapaku. Sapaan yang pernah dipertanyakan oleh Princessku.

"Mama, emang Mama itu terkenal ya? Kok banyak banget sih orang yang kenal Mama dan malahan tahu kalau Mama sudah pernah pergi haji?" pertanyaan heran bercampur tatapan takjub dari mata bening itu selalu membuatku tak kuasa menahan gemes dan pasti langsung aku peluk dan cium pipi chubynya.

Hari itu urusanku ke bank dekat rumah. Agak takut karena meski hanya beberapa meter aku harus melewati jalan raya dengan naik sepeda. Hiiii........serem, gimana kalau kesenggol mobil, motor, angkot, metromni? Kadang sesampainya di jalan raya (keluar komplek) aku turun dari sepeda dan menuntunnya sampai parkiran. Di bank Alhamdulillah tidak terlalu ramai dan karyawanku, bagian keuangan sudah menunggu di sana lengkap dengan semua keperluan kami sehingga aku tinggal cek sedikit, tandatangan, lalu ketemu kasir, dan selesai. Tidak sampai 15 menit urusanku klaar.

Karena ban sepedaku agak kempes, aku memutuskan mampir bengkel dekat situ untuk isi angin. Ada sebuah mobil cukup baru (plat nomernya tiga digit di belakang) sedang ngisi angin juga. Kudengar bapak yang membawa mobil itu sedang bercerita ke tukang bengkel bahwa itu mobil biasa dipakai anaknya kuliah. Terlihat binar kebanggaan sekaligus suara agak sombong di sana. Aku hanya tersenyum sendiri saja. Dan tukang bengkel mendengarkan dengan kagum sesekali bertanya dan kembali berdecak penuh kekaguman.

"Maaf Pak, apa tidak kebesaran ya kalau diisi 60?" tanyaku reflek mendengar bapak itu akan isi ban mobilnya sebesar itu, karena aku sendiri jika isi angin untuk mobilku hanya 32-35. Aku khawatir dia salah sebut angka yang akan menyebabkan bahaya.

Kontan mereka berdua menatapku tajam. Si Bapak lalu ramah mengatakan memang mobilnya biasa diisi 60. Lalu dia mengajakku ngobrol sambil menunggu mobilnya selesai. Dari obrolan kami, ternyata dia bilang pernah tinggal di komplek yang sama denganku, namun sudah tidak di sana lagi. Setelah aku tanya di blok mana? Yang dia sebut adalah alamat yang aku kenal pemiliknya, tapi bukan dia. Agak heran, namun aku tidak menunjukkannya. Tanpa kutanya, mungkin juga tanpa dia sadari, terbersit kesan bahwa dia adalah mantan sopir dari tetanggaku itu.

'Wah, hebat nih bapak.' Pikirku.Mantan sopir tapi sekarang anaknya kuliah naik mobil baru. Tapi kemudian dia menyebut nama anaknya, kuliah di mana......lho?? Aku tahu anak itu anak siapa, dan bukan anak dia. Hehehe................rupanya ini bapak masih sopir, hanya pindah majikan. Dan yang dia bilang anak adalah anak majikannya. Ya, sudahlah aku tidak ingin membuat dia malu. Aku biarkan saja dia dengan kesombongan palsunya. Kasihan......

Selesai mobilnya, bapak itu pergi dan tibalah giliranku isi angin untuk sepeda mini pink ku.

"Emang Mbak punya mobil gitu?" tiba-tiba aku dikagetkan dengan pertanyaan mengejek dari tukang bengkel yang tadi terkagum2 dengan bapak tadi. Padahal bapak tadi berbohong.

"Kalo emang punya, coba aja bawa sini." lanjutnya sinis sambil tak henti memperhatikanku dari ujung jilbab sampai ujung sandal, dari sepeda sampai sepeda ya hanya sepeda yang dia lihat. Celana panjang jeans, kaos lengan panjang, jilbab kaos, sandal, tanpa make up dan tanpa perhiasan sama sekali. Karena aku terlihat miskin, maka dia tidak menghargai, terkesanmengejek, menghina, curiga, tidakpercaya.

Hahaha.......................geli sekali sebenarnya aku dibuatnya. Dia bisa kagum meski bapak tadi bohong. Tapi dia sangat sinis padaku karena aku naik sepeda dan mungkin menurutnya aku tidak pantas punya mobil. Gak ada tongkrongan punya mobil. Aku memang tidak pernah ke bengkelnya karena bengkelnya bengkel motor. Lha aku tidak bisa naik motor. Kalau service mobil, aku sudah punya langganan yang mana aku tinggal telpon maka montir akan datang ambil dan nanti mengembalikan ke rumah. Kalau keluhanku ringan, maka service malah dilakukan di rumah. Lagian emang kenapa kalo aku tidakpunya mobil? Apa iya harus menghargai orang hanya karena kekayaannya?

"Oh.......tolong isi anginnya mas. Saya pakai sepeda saja." jawabku tetap sopan.

"Kalau memang punya mobil, buktikan donk.................." demikian dia sambil isi angin ban sepedaku tetap ngotot nggak terima aku tadi sok tahu tentang angin ban mobil padahal menurutnya aku tidak punya mobil.

Begitulah. Tidak jarang penampilan wah, omong besar, lebih dihargai orang lain di jaman ini sehingga terkadang mati-matian dilakukan orang meski harus berbohong. Bukan kebaikan, kesantunan, kebenaran, kerendahan hati yang lebih dihargai.

*prihatin*


Senin, 28 November 2011

Nggak Tambah Gede

Minggu pagi sebelum ke pasar tradisional untuk membelikan makanan buat ayam-ayam sekalian klinong-klinong boncengan motor berdua pacarku, kami dihadang oleh satpam RT. Ternyata dia minta sumbangan untuk acara menyambut 1 Muharam dan berpesan padaku agar mau menyiapkan pakaian bekas keluargaku.


"Kalau sudah dipak panggil saya aja Bu, nanti saya ambil." begitu katanya.

Sebenarnya aku tidak terbiasa memberikan baju bekas kami ke orang lain. Nggak enak rasanya memberi pakaian bekas kami. Pakaian kami bukanlah pakaian bagus, branded, atau berharga mahal. Tentunya bekasnya juga tidak bagus. Kami terbiasa membeli apa-apa sesuai keperluan. Bukan karena merk, gengsi, atau karena sedang tren. Jadi, mahal atau murah juga sesuai keperluan dan sesuai kantong kami tentunya. Meski demikian tidak jarang orang minta pakaian bekas anak-anakku untuk anak-anak mereka. Yah, masuk akal karena anak-anakku memang tumbuh agak cepat sehingga pakaian cepat sempit sebelum terlalu lusuh. Jika demikian, barulah aku berikan pakaian bekas kami. Karena diminta.

Mulailah aku dan Princess si perangkoku berburu pakaian bekas. Kamar demi kamar kami masuki, bergerilya mencari pakaian yang sudah sempit namun masih sering dipaksain untuk dipakai jika mereka suka dan pakaian yang jarang dipakai hingga akhirnya sempit meski masih kelihatan baru. Hmm......ternyata lumayan juga. Kardus bekas air mineral tidak bisa menampungnya. Ok, aku masih punya kardus lain di gudang. Hunting berlanjut.....

Sampai di kamarku, aku bongkar lemari pacarku. Alhamdulillah......aku menemukan beberapa celana panjang, kemeja, dan kaos-kaos yang kalau dia pakai sudah seperti lepet. Hahaha..........memang rupanya pacarku sudah lumayan besar. Aku nggak akan bilang gendut lho, katanya sih jangan singgung masalah berat badan laki-laki dewasa karena itu sensitif sebagaimana jika menyinggung usia perempuan dewasa.

Selesai ngobrak-abrik lemari pacarku, aku beralih ke lemariku.

"Mama..........ngapain ke situ?" tanya Princessku setengah melarang.

"Ya cari baju mama lah cantik. Emang kenapa nggak boleh?" jawabku heran, kenapa dia ngelarangku ya.

"Ya bukan gitu Ma, kalau baju adek, mas-mas, papa kan pasti ada yang sudah kesempitan. Kalau baju mama nggak akan ada. Suer! Adek jamin." katanya serius namun tetep aja lucu.

"Kenapa adek bilang gitu?" tanyaku penasaran.

"Ya kan Mama kan nggak tambah gede kayak kami. Mama nggak tumbuh, nggak tambah besar, nggak tambah tinggi, nggak tambah gendut juga, keciiiil terus. Makanya Mama makan yang banyak, yang bergizi, minum susu, trus bobok yang cukup supaya tumbuh besar, biar nanti pakaiannya ada yang sempit. Kan saat kita bobok itu kita tumbuh." jawabnya kalem persis seperti jika aku menasihatinya saat dia susah makan, susah tidur, yang membuatku pengin gubrrraaaagggggg!!!!!!!!!!!

Dasar copycat!