Halaman

Minggu, 01 Agustus 2010

Sadarlah, Mereka Adalah Peniru Kita!!!

Hmm.......... pasti semua orangtua sudah mengetahui jika menjadi orangtua haruslah menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Betul?? Tapi seberapa besar keyakinan mereka bahwa MEMANG anak-anak SELALU meniru kita orangtuanya, kita sadari atau tidak, mereka melihat perbuatan kita atau tidak. Coba perhatikan baik-baik buah hati masing-masing. Mereka meniru kita !!

Demikian juga berlian-berlianku. Ternyata tanpa aku sadari mereka selalu meniruku, meniru papanya, bukan hanya dalam tingkah laku perbuatan, namun juga perkataan dan pemikiran. Iya!!! Bahkan PEMIKIRAN yang aku sendiri merasa tidak pernah menanamkan pemikiranku kepada mereka, ternyata mereka mempunyai cara berpikir yang mirip denganku. Masya Allah....... semoga tidak terlalu banyak keburukanku yang mengkontaminasi mereka.

Aku memang tidak mempunyai kemampuan yang cukup dalam ilmu agama termasuk dalam membaca dan menghafal Al Qur'an. Aku hanya berusaha semampuku dengan segala keterbatasanku dan kemalasanku. Hhhh........... bagaimana mau cepat pinter coba?? Hehehe....... Dengan terbata-bata aku belajar membaca Al Qur'an pada saat berlian gantengku yang pertama masih di perutku, dan sangat menyedihkan karena sampai dia sudah cukup besar (2th) aku masih tetap terbata-bata membacanya. Sampai sekarang malah . Hahaha......... dasar!! Lalu suatu hari (usianya saat itu 2 thn) saat aku berjalan-jalan pagi setelah subuh dengannya, aku bersenandung lirih; "Ammayatasaa aluun........" Lalu tiba-tiba berlian mungilku yang dempal itu menyahut lancar sampai ayat terakhir. Lalu kali lainnya saat teman kantorku yang memang sedang ikut program tahfizh Qur'an main ke rumah, iseng dia ngetes berlianku dengan melafazkan awal Surah Al Bayinah dan disamber berlianku sampai ayat terakhir pula.

Wow!! Aku terkesima dan bertanya ke dia; "Cintaku, berlian indahku, kok hebat banget sih hafal surat itu? Siapa yang ajari?" Di luar dugaanku, dia menjawab tegas; 'Mama!' Haaa.......... "Kapan Mama ngajarinya sayang?" 'Kan waktu itu yang Mama baca-baca Qur'an pas Mas main mobilan.' Subhanallah........... aku belajar membaca terbata-bata di dekatnya bermain rupanya dia anggap aku sudah mengajarinya. Duuuuh.......... bikin GR aja sih gantengkuu........... Dan sekarang, mereka mampu membaca Al Qur'an dengan bagus, mereka hafal cukup banyak surat Al Qur'an (2-3 juz) juga. Sementara mamanya masih juga terbata-bata dengan hafalan hanya 2-3 surat saja.....

Lalu bagaimana semua berlianku sudah menyukai buku bahkan sebelum mereka bisa membaca. Mereka akan mondar mandir mencari buku kecil jika merasa mules, karena kebiasaan membaca di KM rupanya mereka ikuti juga.

Juga kebiasaan kami berdua puasa Senin Kamis, meski tidak pernah mengajak ataupun menganjurkan mereka untuk melakukannya namun mereka akan puasa Senin Kamis jika sedang tidak terlalu berat kegiatan fisik mereka. Demikian juga puasa Syawal, mereka pun sering mengamalkannya, minta ikut dibangunkan sahur jika aku dan papanya akan sahur Syawal sejak mereka masih SD. Bahkan pada saat mereka ujian dan kami berdua puasa sunah 2 minggu penuh selama mereka UAN tanpa memberitahukan ke mereka sama sekali. Ee......... selesai UAN berlianku menjalankan puasa sunah, katanya karena bersyukur sudah menjalani UAN dengan lancar. Aku tanya; "Emang kenapa kok puasa?" Jawabnya; 'Kan Mama Papa juga puasa waktu kami UAN.'

Di waktu yang lain berlianku curhat ke aku tentang bagaimana teman-temannya, orang-orang di sekitarnya seringkali menangkap sesuatu hanya permukaannya saja. Tidak memandang jauh ke depan, tidak mengupas suatu pernyataan dengan dalam, dll. Sehingga kalau dia bicara tidak bisa dimengerti teman bicaranya. Hahaha........... kok persis sama gitu ya sok tahunya . Aku juga sering susah menyampaikan maksudku kepada orang lain karena ternyata menurutku yang sok tahu ini, mereka tidak melihat sejauh aku, tidak mengupas sedalam aku. Misalnya maksudku "cinta" itu bukan sekedar nafsu, birahi, atau hal sederhana yang mereka pikirkan akan arti cinta, namun maksudku tentu saja cinta hakiki. Jika aku mengatakan akan melakukan segalanya demi anak-anakku, maka bukan berarti aku menerapkan permissivism, apa-apa boleh, seluruh permintaan mereka aku kabulkan. Namun justru melakukan segalanya termasuk mengarahkan, bahkan marah jika perlu, dan menolak atau menunda permintaan mereka.

Dll dll...........

Ehem........... jangan salah, termasuk hal-hal jelek yang tanpa aku sadari aku lakukan pun tidak jarang aku lihat mereka lakukan. Dan aku................. malu banget!! Tidak menegur, aku salah! Menegur, bagaimana caranya?? Secara mereka kan meniruku. Pasti mereka akan mengatakannya jika aku tegur, bahwa akulah yang telah mengajarkannya. Maka............ jika mereka melakukan suatu perbuatan buruk yang pertama kali aku lakukan adalah MINTA MAAF kepada mereka jika aku telah membuat mereka melakukan kesalahan atau keburukan itu. Kemudian aku akan memberitahukan jika itu tidak baik, tidak pantas, dan tidak seharusnya aku lakukan, yang oleh karenanya juga tidak baik jika mereka lakukan . Aku salah, maka aku minta maaf dan berusaha akan perbaiki, serta jangan sampai mereka harus melakukan kesalahan yang sama. Aku telah mengalami dan merasakan akibatnya. Aku berharap mereka tidak perlu melakukan kesalahan yang sama yang pernah aku lakukan sehingga akselerasinya berjalan optimal.

Yang jelas, aku semakin hari semakin menyadari jika berlianku selalu akan meniruku meski tanpa aku sadari. Makanya aku harus semakin berhati-hati dan menimbang-nimbang terlebih dahulu agar lebih bijak dalam setiap perkataan, perbuatan, dan sikapku.

So, jangan sekali-sekali bilang anti korupsi jika masih nembak SIM, KTP, nyuap sana sini, berharap uang 'ceperan', dll. Jangan berharap anaknya tidak berbohong jika kita seringkali melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita katakan. Jangan berharap anaknya aman dari pergaulan bebas jika orangtuanya bergaul bebas di luaran. Jangan larang anak merokok atau justru kena narkoba dan berharap mereka menuruti jika orangtuanya merokok.

Hikcs............. memang anak-anak sejatinya tidak pernah salah. Kita orangtuanyalah yang telah melakukan kesalahan jika mereka salah. Hehehe........... ini juga jangan dianggap aku selalu membenarkan apapun yang mereka lakukan meskipun mereka salah ya. Tapi.............. jika anak-anak salah, seyogyanya kita introspeksi diri. Sangat mungkin kita permah memberi contoh melakukan suatu kesalahan, membiarkan suatu kesalahan di sekitar kita terjadi, atau membiarkan anak-anak kita menangkap kesalahan yang sudah biasa terjadi di sekitar mereka tanpa kita kontrol dan arahkan dengan perkataan kita maupun perbuatan kita. Ya, jangan hanya perkataan, tapi perbuatan kita juga harus selaras.


Tidak ada komentar: